Benda-benda tidak terpakai kertas, plastik, potongan karet dan sampah non organik lainnya masih saja ada yang membakar sendiri dengan alasan tidak masuk akal, bersih-bersih lingkungan rumah.
Bermodalkan macis api, kertas jadi pemicu untuk ‘pesta’ bakar-bakar yang hasilnya hanya asap sesak, Senin 3 November 2025 di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Sebar asap kemana-mana, ke rumah tetangga, partikel debu nempel ke pekarangan rumah, masuk ke lubang hidung orang.
“Bukannya rajin berikan pangan, sebaliknya kirim asap racun ke orang-orang,” celetuk orang yang berpikiran realistis yang tinggal di Gala Puncak, Kelurahan Graha Indah, Kecamatan Balikpapan Utara, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.
Nabi berpesan, andaikata memasak lalu asapnya tercium sampai ke tetangga, maka berbagilah masakan tersebut untuk bisa diicip-icip demi menghidupkan peradaban hubungan harmonis manusia.
“Tetapi ini tidak, asap bakaran sampah. Walah,” beber orang yang bercampur dengan rasa jengkel.
Coba tengok apa efek dari membakar sampah non organik seperti plastik, kertas, karet, hingga sampah organik, ranting-ranting dan rumput kering.
Ini contekan, dampak serius membakar sampah yang berefek pada kesehatan manusia.
Asap hasil pembakaran sampah melepaskan berbagai zat kimia beracun yang bersifat karsinogenik atau pemicu kanker dan iritan ke udara.
Gangguan Pernapasan Jangka Pendek:
Batuk, sesak napas, dan nyeri di hidung atau tenggorokan.
Memicu atau memperparah serangan asma.
Iritasi pada mata, menyebabkan mata merah dan berair.
Masalah Kesehatan Jangka Panjang dan Serius:
Kanker:
Asap, terutama dari sampah plastik, melepaskan zat karsinogenik seperti Dioksin, Furan, Benzopirena (BAP), dan Poly-Aromatic Hydrocarbons (PAH). Zat-zat ini diketahui dapat memicu berbagai jenis kanker.
Gangguan Paru-paru:
Paparan terus-menerus meningkatkan risiko penyakit pernapasan kronis seperti bronkitis, pneumonia, dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).
Gangguan Jantung dan Pembuluh Darah (Kardiovaskular):
Partikel halus atau Particulate Matter (PM 2.5 atau PM 10) yang terhirup dapat masuk ke paru-paru dan aliran darah, meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, penyakit jantung koroner, dan stroke.
Kerusakan Kulit:
Paparan dioksin dan furan dapat menyebabkan lesi kulit atau kondisi seperti chloracne.
Kelompok Rentan:
Ibu hamil, bayi, anak-anak, dan lansia sangat rentan terhadap dampak kesehatan ini.
Merusak Lingkungan Tempat Tinggal
Tidak hanya itu, bakar sampah juga memberi dampak negatif pada lingkungan.
Pembakaran sampah terbuka juga merusak lingkungan dan ekosistem di sekitarnya.
Polusi Udara dan Pemanasan Global:
Asap mengandung gas rumah kaca dan polutan seperti Karbon Monoksida (CO), Sulfur Dioksida (SO2), dan Nitrogen Oksida (NOx) yang mencemari udara dan berkontribusi pada perubahan iklim dan pemanasan global.
Pencemaran Tanah dan Air:
Abu sisa pembakaran mengandung residu zat beracun yang dapat meresap ke dalam tanah dan mencemari sumber air. Residu ini juga dapat mengganggu kesuburan tanah.
Kerusakan Ekosistem:
Zat beracun yang mengendap pada tanaman atau padang rumput dapat masuk ke dalam rantai makanan hewan ternak (misalnya pada susu, daging, dan telur), yang kemudian memengaruhi kesehatan manusia saat dikonsumsi.
Risiko Kebakaran:
Pembakaran sampah secara terbuka, terutama saat kondisi cuaca kering dan berangin, dapat memicu kebakaran yang tidak disengaja (misalnya kebakaran lahan atau hutan).
Sebelum Memohon Ampun pada Allah
Apa yang ada dalam benak pikiran pada mereka yang masih gemar membakar sampah.
Jelas-jelas, membakar sampah berikan efek buruk terhadap kualitas udara, memperburuk kesehatan tubuh hingga retakan hubungan horizontal yang jelas-jelas juga sakral.
Ada kalimat sakti nan suci; sebelum memohon ampun pada Allah, selesaikan dahulu percik-percik polemik kesalahan dengan manusia.
Mengingat, manusia itu tempatnya salah, tidak ada yang resik. Karena itulah, kirimlah asap makanan, bukan sampah yang sesakkan dada manusia. Selamat menunggu santap siang. (*)












