TITIKNOL.ID, TANJUNG SELOR – Senja baru saja turun di Kebun Raya Bundayati di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara, ketika warna-warni busana tradisional mulai memenuhi panggung utama Benuanta Fest 2K25.
Di antara gemerlap lampu dan hiruk pikuk penonton, satu per satu perwakilan etnis di Kalimantan Utara naik ke panggung, membawakan tarian, musik, hingga ritual adat yang sudah diwariskan lintas generasi.
Inilah Folk Festival, salah satu rangkaian dari konsep 7F yang menjadi roh perayaan HUT ke-13 Provinsi Kalimantan Utara tahun ini.
Selama sepekan, kawasan ini berubah menjadi rumah besar bagi keberagaman rumah bagi 25 etnis yang hidup dan tumbuh di provinsi muda tersebut.
Festival yang Menyulam Budaya
Konsep 7F menghadirkan berbagai kegiatan dalam satu rangkaian besar. Selain Folk Festival, ada pula:
Food Festival, yang menampilkan hidangan khas Kaltara dari beburon tradisional hingga jajanan laut yang menggoda selera.
Fair Expo, pameran pembangunan, UMKM, dan kreativitas masyarakat.
Fashion Festival, ajang desainer lokal menampilkan rancangan berakar budaya Kaltara.
Fun Sport Festival, menghidupkan kembali aneka olahraga tradisional.
Folk Carnival, karnaval budaya yang diikuti sekolah, OPD, komunitas hingga parade mobil hias.
Kayan River Festival, lomba perahu di Sungai Kayan yang digelar awal November.
Dan ditutup oleh Music Festival, menghadirkan band-band terbaik Kaltara dan penampilan artis nasional.
Namun sore itu, sorotan utama tertuju pada parade budaya dalam Folk Festival.
Dari 25 etnis yang dijadwalkan, dua di antaranya berhalangan hadir, namun hal itu tak mengurangi semarak acara.
Menanamkan Kembali Akar Budaya
Kepala Dinas Pariwisata Kaltara, Njau Anau, mengatakan bahwa kehadiran berbagai etnis ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan bagian dari upaya menghidupkan kembali identitas budaya di tengah masyarakat.
“Kami ingin mendorong regenerasi budaya agar terus hidup. Ini juga menjadi amanat Pak Gubernur agar kearifan lokal selalu punya ruang yang terhormat,” ungkap Njau, Minggu (16/11/2025).
Dengan tampilnya beragam tradisi, ia berharap masyarakat, terutama generasi muda, dapat kembali mengenal kekayaan budaya yang ada di sekeliling mereka.
Kepala Bidang Pemasaran & Ekraf Dispar Kaltara, Ary Rifaldi Hamidan, menambahkan bahwa Folk Festival bukan hanya ruang merawat budaya, tetapi juga sarana memperkenalkan wajah pariwisata Kaltara ke masyarakat luas.
Selama sepekan, Lapangan Kebun Raya Bundayati menjadi tempat berkumpulnya tari-tarian sakral, nyanyian tradisi, pakaian adat, hingga cerita-cerita lama yang dibawakan berbagai komunitas, baik dari lembaga adat maupun paguyuban etnis yang menetap di Kalimantan Utara.
“Setiap hari ada penampilan yang berbeda. Masing-masing etnis membawa ciri khasnya sendiri, sehingga pengunjung bisa menikmati Kaltara dalam banyak warna,” ujarnya.
Dari tepian Sungai Kayan hingga panggung budaya di Bundayati, Benuanta Fest 2K25 menjadi saksi bahwa Kalimantan Utara bukan hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga kaya cerita, tradisi, dan identitas yang terus hidup hingga hari ini. (*)












