TITIKNOL.ID, BALIKPAPAN – Keluarga korban bocah tenggelam di kubangan air Km 8, Kelurahan Graha Indah, Kecamatan Balikpapan Utara, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur, sisakan duka yang mendalam.
Tangisan tidak bisa terhenti, kesedihan mendalam menggelayut pada aroma wajah orangtua korban di kawasan mortuary atau kamar jenazah Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur pada Senin (17/11/2025).
Satu di antaranya Nia Karunia Putri (24), ibu kandung korban bernama Muhammad Rifai, tampak ada tangisan pecah.
Nia yang saat itu mengenakan jilbab coklat terlihat banyak duduk di lantai pelataran ruangan mortuary.
Kala itu, nia sesekali berdiri, jalan ke sana kemari ditemani sang suami yang kala itu mengenakan topi. Suami terlihat mendekap tubuh Nia, sambil untaikan kata-kata sabar.
Dalam kesempatannya, Nia bercerita kepada TribunKaltim.co, atas tragedi anaknya yang bernama Muhammad Rifai jadi satu di antara korban tenggelam di kubangan air.
Sebelum anaknya meninggal, dirinya merasa heran, saat mau berangkat sekolah tidak ada tanda-tanda sedih, riang saja,
Kejadian terjadi usai pulang sekolah. Korban Rifai bersekolah di SD Negeri 09 Balikpapan Utara, masuk pagi. Sementara kejadian tenggelamnya sekitar sore hari, tidak dalam waktu jam-jam masuk sekolah.
“Dia pernah mau minta sunat, untuk kelas 4 ini nanti,” bebernya. Jadi rencana dalam waktu dekat ini, mau dilakukan sunat harus batal karena takdir sudah berkata lain harus pulang ke rahmatullah.
Selain minta sunat, Rifai pun memohon untuk dibelikan smartphone untuk sarana komunikasi dan edukasi menggali informasi.
“Kemarin minta handphone, saya kasih handphone. Saya belikan. Minta apa saja selalu dituruti, anak kesayangan. Kan jadi anak laki, satu satunya. Minta handphone buat belajar,” tuturnya.
Saat kejadian bencana, Nia sedang tidak di rumah tapi lagi bekerja. Anak bersama neneknya di rumah tapi ternyata tidak di rumah, lebih pilih pergi bermain keluar rumah saat siang menjelang sore.
“Saya sedang kerja sebagai koki masak. Anak saya sedang bersama neneknya, saya sibuk kerja. Kaget dapat kabar anak jadi korban tenggelam,” tuturnya.
“Saya berharap anak saya bersama teman-temannya masuk surga, sudah tidak sakit lagi, hidup bahagia di sana, akhirat,” kata Nia.
Minta Pemberian Papan Larangan
Di tempat yang sama, Agus, suami dari Nia, atau ayah kandung korban, mengaku kaget anaknya masuk daftar korban tenggelam kubangan di km 8, Graha Indah, Kecamatan Balikpapan Utara.
“Saya dengar langsung syok tapi rasa tidak percaya juga, tidak ada tanda-tanda aneh kok bisa-bisa ya anak saya kecelakaan,” tuturnya.
Agus diberitahu oleh kakanya melalui telepon seluler, Agus saat itu sedang berkerja mengantar barang ke Sepinggan. Dihubungi via telepon, kabar anak meninggal dunia mengalami kecelakaan tenggelam di kubangan air.
Lantas Agus pun langsung meninggalkan aktivitas kerjanya, pergi ke lokasi kejadian. Dapat kabar di kubangan Km8 Graha Indah, begitu sesampai di sana, sedang dilakukan pencarian oleh tim relawan.
Agus sempat ikut mencari, terjun ke pinggir-pinggir kubangan, mensisir mencari jejak keberadaan anaknya yang ikut tenggelam. Agus menjajal, ikut menceburkan diri, bersama tim relawan mencari dan memang ternyata tidak dangkal, kedalaman sekitar 4 meter lebih.
Jasad anak Agus pun menjelang malam, ditemukan dalam keadaan tidak bernapas lagi, meninggal dunia karena tenggelam.
“Ya takdir, mungkin sudah segitu saja takdir umur anak saya,” bebernya.
Dia pun sangat berharap, atas kejadian ini, pihak berwenang harus mengevaluasi kawasan, seharusnya ada rambu-rambu atau larangan tidak boleh beraktivitas. Perlu ada penjagaan untuk tidak berkegiatan bermain di dekat kubangan air.
“Tidak ada plang untuk area larangan bermain. Ya namanya anak-anak, kalau main, main saja. Anak saya memang tidak sempat pamitan izin mau main jauh. Kami orangtua tidak tahu kalau anak mau main ke genangan air,” tuturnya. (*)












