SamarindaTitiknolKaltim

Kaltim Bidik 3.000 Hektare Sawah Baru Tahun 2026, Melawan Tantangan Lahan dan Irigasi

43
×

Kaltim Bidik 3.000 Hektare Sawah Baru Tahun 2026, Melawan Tantangan Lahan dan Irigasi

Sebarkan artikel ini
MAJUKAN PERTANIAN KALTIM - Foto aktivitas pertanian di persawahan yang subur makmur. Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim, Siti Farisyah Yana, menjelaskan sejumlah kendala yang dihadapi, termasuk kondisi ekosistem, perencanaan yang matang, serta kolaborasi berbagai pihak terkait. (Meta Ai)  

Ambisi Pertanian Kaltim, Optimalisasi Lahan Jadi Kunci Ketahanan Pangan

TITIKNOL.ID, SAMARINDA — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menegaskan ambisi besar mereka untuk mencapai swasembada pangan.

Sebagai langkah strategis, Pemprov menargetkan akan merealisasikan sekitar 3.000 hektare sawah baru pada tahun 2026.

Target masif ini merupakan upaya serius untuk memperluas area tanam dan memperkuat ketahanan pangan daerah.

Langkah ini selaras dengan program Optimalisasi Lahan (Oplah) yang bertujuan meningkatkan frekuensi tanam dan didukung oleh percepatan pembangunan infrastruktur irigasi di berbagai wilayah.

Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Provinsi Kaltim, Siti Farisyah Yana, menjelaskan bahwa Oplah bertujuan mengubah lahan yang biasanya hanya bisa ditanami sekali setahun menjadi dua kali atau lebih.

“Jadi, pemerintah memperbaiki saluran tersiernya, memperbaiki galangannya, atau membangun irigasi tersiernya agar air tersedia di lahan tersebut,” beber Siti Farisyah, Sabtu (22/11/2025).

Dengan perbaikan sistem irigasi, lahan yang sebelumnya hanya mengandalkan air hujan atau air rawa kini memiliki peluang besar untuk mendongkrak produksi padi di sentra-sentra pertanian.

Tantangan Pencetakan Sawah Baru

Program optimalisasi lahan ini telah dimulai di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada 2024 dan akan diperluas pada tahun 2026 ke empat daerah potensial lainnya: –

  • Kota Samarinda;
  • Kabupaten Paser;
  • Kabupaten Kutai Timur;
  • dan Kabupaten Kutai Kartanegara. 

Bahkan, di Samarinda Utara, DPTPH telah menggandeng Brigade Pangan untuk mengecek langsung kesiapan teknis dan ketersediaan petani penggarap.

“Harapan kita bersama, Bapak Gubernur mendorong agar secepat-cepatnya merealisasikan swasembada pangan,” ujarnya.

Namun, upaya penambahan area tanam melalui pencetakan sawah baru tidaklah mudah.

Usulan cetak sawah seluas sekitar 2.400 hektare yang diajukan ke Kementerian Pertanian kini harus melalui proses yang jauh lebih kompleks, yaitu Survei Investigasi Desain (SID).

Baca Juga:   Sapi Kurban Presiden Prabowo di Sulbar Mati Mendadak, Diduga karena Keracunan

“Cetak sawah itu tidak semudah yang kita kira. Kita harus menyiapkan lahan-lahan yang memenuhi delapan kriteria syarat, seperti tidak masuk kawasan HGU (Hak Guna Usaha) dan tidak ada masalah kehutanan,” terangnya.

Kendala Geografis dan Ketersediaan Petani

Siti Farisyah mengungkapkan bahwa tantangan utama di Kaltim adalah tumpang tindih penggunaan lahan.

Banyak wilayah potensial sudah lebih dulu digunakan untuk sektor perkebunan dan kehutanan, membuat sulit menemukan lahan yang memenuhi delapan kriteria kelayakan tanam tersebut.

Selain itu, ketersediaan petani yang siap menggarap lahan secara konsisten juga menjadi aspek yang harus dipastikan.

Tentunya membuat proses pencetakan sawah baru kini jauh lebih selektif.

Salah satu contoh kendala adalah rencana pencetakan sawah 200 hektare di Mahakam Ulu, yang terpaksa ditarik ke tahun 2026 karena faktor mobilisasi alat dan keterbatasan waktu pengerjaan di 2024.

“Anggaran yang ada kita gunakan untuk SID yang baru. Jadi, Insya Allah total tahun depan itu ada sekitar 3 ribuan hektare yang kita targetkan,” pungkasnya optimis. (*)