TitiknolOpini

Menggali Makna Kebersihan Balikpapan, Etika Kelola Sampah di Jalanan

15
×

Menggali Makna Kebersihan Balikpapan, Etika Kelola Sampah di Jalanan

Sebarkan artikel ini
KEBERSIHAN KOTA - Geliat perkotaan Balikpapan di Jalan MT Haryono, 22 Agustus 2025 pagi. Pola hidup bersih, menciptakan tata kota yang rapih, dan menjaga Balikpapan tetap bersinar sebagai etalase Kaltim, bermula dari kesadaran setiap individu untuk tidak membiarkan selembar plastik pun mencemari jalanan yang kita lalui.

Keindahan sebuah kota metropolitan seringkali dinilai dari kerapian jalannya. Di Balikpapan, kota yang dijuluki “Serambi Kalimantan Timur” dan etalase bagi Ibu Kota Nusantara, ada dua pengamatan sederhana di jalan raya yang seharusnya menjadi cermin bagi kita semua tentang tanggung jawab kebersihan kota.

Sore itu, di tengah hiruk pikuk Jalan Soekarno Hatta atau ruas padat Grand City Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur sebuah pemandangan menarik perhatian.

Seorang anak berseragam sekolah, yang dibonceng orang dewasa, tanpa ragu melepaskan bungkusan plastik bekas es krimnya, membiarkannya terbang dan jatuh sembarangan di aspal jalan.

Pemandangan serupa terulang di tanjakan Projakal, Kelurahan Graha Indah Balikpapan. Kali ini, sampah plastik bekas makanan meluncur keluar dari jendela sebuah mobil yang sedang melaju.

Pelakunya? Lagi-lagi seorang anak.

Peristiwa-peristiwa ini memantik pertanyaan mendasar: Mengapa kesadaran akan kebersihan lingkungan seolah terputus di ambang kendaraan?

Titik Awal Pendidikan Lingkungan

Memang benar, sekolah telah mengintegrasikan kurikulum tentang pentingnya membuang sampah pada tempatnya.

Mata pelajaran formal selalu menyuarakan manfaat hidup bersih dan menciptakan tata kota yang resik.

Namun, jika pemandangan sampah tercecer di jalan masih sering terjadi, peran tersebut agaknya belum sepenuhnya efektif.

Kebersihan Kota Balikpapan sejatinya bukanlah beban yang diemban oleh Pemerintah Kota semata.

Ia adalah tanggung jawab kolektif seluruh penghuninya. Jika halaman depan Kalimantan Timur, yakni Balikpapan, ternoda oleh sampah yang berserakan, maka keindahannya akan tenggelam dalam kesemrawutan.

Solusi Kantong Ajaib 

Solusi untuk masalah ini sebetulnya sangat sederhana dan dimulai dari unit terkecil: keluarga.

Orang tua memegang peranan krusial dalam memberikan pendidikan praktis tentang kebersihan.

Anak-anak boleh bebas menikmati makanan dan minuman kemasan di perjalanan, namun etika pasca-konsumsi harus diajarkan: sampah tidak boleh seenaknya dibuang ke jalan.

Baca Juga:   Bayang-bayang Ketakutan Warga di Muara Rapak Balikpapan, Pemkot Berkesan Lalai

Kita bisa mengajarkan langkah kecil, namun berdampak besar: menampung sampah sementara, mengantonginya, dan baru membuangnya di tempat sampah terdekat begitu kendaraan berhenti.

Pendidikan sedini mungkin yang dicontohkan langsung oleh orang tua akan jauh lebih kuat daripada teori di kelas.

Pola hidup bersih, menciptakan tata kota yang rapih, dan menjaga Balikpapan tetap bersinar sebagai etalase Kaltim, bermula dari kesadaran setiap individu untuk tidak membiarkan selembar plastik pun mencemari jalanan yang kita lalui. 

Tantangan Kecil di Pemukiman Gala Puncak

Kawasan pemukiman elit Gala Puncak, di Kelurahan Graha Indah, Balikpapan Utara, tak luput dari isu klasik gaya hidup modern: ketergantungan pada kemasan plastik. Namun, di tengah kenyamanan lingkungan, muncul kesadaran kolektif bahwa pola konsumsi ini harus diimbangi dengan kebijaksanaan pengelolaan sampah dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Meski tidak dominan, sesekali mata masih menangkap pemandangan yang merusak estetika: beberapa sampah plastik bekas makanan dan minuman yang tercecer di jalanan pemukiman. Pelaku utamanya seringkali adalah anak-anak yang terbiasa membuang bungkus jajanan mereka begitu saja setelah selesai.

Tidak hanya plastik, kontribusi sampah dari orang dewasa juga ada, terutama berupa puntung rokok. Meskipun ukurannya kecil, puntung rokok adalah bagian dari sampah anorganik yang merusak kualitas lingkungan dan mencemari pemandangan di Gala Puncak.

Seni Memungut dan Memilah Sampah

Menghadapi masalah ini, ada aksi nyata yang dilakukan secara sederhana namun konsisten: setiap sampah anorganik yang ditemukan di jalan, baik itu plastik maupun puntung rokok, langsung dieksekusi, dipungut, dan ditaruh di tempat sampah.

Langkah ini juga berlaku untuk sampah organik yang sering melimpah di lingkungan perumahan, seperti daun-daun kering, ranting, dan bunga tanaman. Jenis sampah ini dipungut secara terpisah untuk kemudian dikumpulkan dan diolah menjadi pupuk organik, sebuah upaya zero waste skala kecil.

Baca Juga:   Ujian Fiskal di Daerah, Inovasi atau Krisis?

Syarat mutlaknya adalah pemisahan ketat: sampah organik tidak boleh sedikit pun tercampur dengan sampah anorganik seperti plastik dan kertas.

Langkah kecil dan ringan ini diharapkan mampu memberikan dampak besar. Ia bukan sekadar aksi bersih-bersih, melainkan sebuah niat tulus untuk berkontribusi menciptakan perkotaan Balikpapan yang resik, nyaman, dan asyik untuk ditinggali. Dari perumahan, budaya lingkungan yang bertanggung jawab ini diharapkan dapat menjalar luas ke seluruh penjuru kota.

*Budi Susilo, Pegiat Gala Puncak Balikpapan