TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Peta politik di Kalimantan Timur (Kaltim) kembali diwarnai gebrakan signifikan. Ada pindah partai politik meski proses Pemilu dan Pilkada masih jauh terjangkau.
Partai Gerindra sukses mencatatkan manuver besar dengan merekrut tiga kepala daerah tingkat kabupaten untuk bergabung di bawah naungan partai berlambang burung garuda tersebut.
Tiga bupati yang secara resmi merapat ke Gerindra adalah:
- Aulia Rahman Basri (Bupati Kutai Kartanegara);
- Mudyat Noor (Bupati Penajam Paser Utara);
- dan Angela Idang Belawan (Bupati Mahakam Ulu).
Langkah agresif Gerindra ini langsung direspons oleh Ketua DPD Partai Golkar Kalimantan Timur, yang juga menjabat sebagai Gubernur Kaltim, Rudy Masud.
Alih-alih menunjukkan kekhawatiran, Rudy Masud justru bersikap tenang.
Ketika dimintai tanggapan mengenai perpindahan tiga pimpinan daerah tersebut, ia menjawab santai.
“Oh aman, tidak ada masalah, aman. Itu konsolidasi biasa,” ujar Rudy Mas’ud pada Kamis (27/11/2025) di Samarinda, Kaltim.
Ketiga bupati tersebut secara simbolis bergabung dengan Gerindra dalam acara Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Partai Gerindra, yang digelar pada Minggu, 23 November 2025, di Puri Senyiur, Samarinda.
Golkar Fokus Bekerja dan Konsolidasi Internal
Ketua Rudy Masud melihat dinamika politik seperti ini sebagai hal yang wajar dan bukan hanya dilakukan oleh Gerindra.
Sebagai partai yang saat ini menduduki puncak perolehan suara atau sebagai pemenang Pemilu Legislatif 2024 di Kaltim, Golkar menegaskan fokusnya tetap pada kinerja.
“Kalau kami hari ini masih fokus untuk bekerja. Kalau untuk kegiatan kepartaian memang ada waktu-waktunya,” katanya.
Politikus senior itu menambahkan bahwa mesin partai Golkar juga tengah dipersiapkan.
Setelah sukses menggelar musyawarah daerah di tingkat provinsi, Golkar kini sedang menyinkronkan penyusunan agenda kepartaian, termasuk menggelar musyawarah di tingkat kabupaten/kota.
“Lagi mensinkronkan penyusunan kepengurusan-kepengurusan kepartaian untuk Golkar Provinsi Kalimantan Timur,” pungkasnya, menandakan bahwa Golkar tetap bergerak di jalur konsolidasi internal tanpa terganggu manuver kompetitor. (*)












