Elegi Bambu Gala Puncak Balikpapan di Tengah Tangis Bumi
Oleh: Budi Susilo, pegiat Gala Puncak
Akar bumi diperankan oleh bambu kuning. Serap air, ikat tanah agar tidak bergerak longsor. Bambu memberi manfaat, kasih udara segar, saring polusi dari sifat ketamakan manusia akan ekspolitasi planet bumi.
Bambu itu bumbu kehidupan yang nyaman. Hidup tanpa bumbu hambar, tidak ada rasa.
Hidup tiada berwarna, gersang kering membosankan. Bambu tumbuh rindang teduhkan gang The Gala Puncak, Perum Pesona Bukit Batuah, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.
Sekilas Bambu tidak bisa memproduksi uang miliaran rupiah, dibalik liak liuk tinggi bambu ada harta yang tidak bisa ternilai.
Memberi oksigen, simpan sumber mata air yang memperpanjang makhluk di bumi, beri kesehatan.
Bayangkan di rumah sakit konsumsi oksigen, harus keluarkan uang puluhan juta. Bambu memberi oksigen tidak menutut untuk meminta balik. Ikhlas tanpa pamrih, hembus tanpa batas, oksigen dari bambu bisa sebebas-bebasnya dihirup.
Bambu, tanpa kasat mata dianggap tak bermanfaat tapi jika sadar dan tahu, orang akan gandrung, bela hingga akhir hayat hidup bersama pohon bambu, menularkan dan membumikan bambu di muka bumi.
Belakangan planet bumi sudah tercoreng dengan keserahakan manusia perusak alam demi sesuap nasi melalu cara yang dilarang etika moral agama.
Pelajaran Pahit dari Sumatera
Bumi sedang menangis. Saat melihat kabar duka dari Sumatera dan Aceh, diterjang banjir bandang dan longsor yang merenggut nyawa dan harta melimpah.
Momen ini ibarat sabda alam, disadarkan akan harga mahal dari ketamakan manusia akan eksploitasi planet bumi.
Mereka yang tidak melakukan kerusakan hutan pun harus terima pahitnya bencana ekologi, amukan alam yang dahsyat bak kiamat kecil.
Dugaan hutan dirusak secara ilegal, pohon dibantai membabi buta demi pundi-pundi keserahakan ekonomi.
Hutan gundul, tanpa tersisa tancapan akar pohon, lapisan hutan hanya tanah, tidak lagi sejuk rindang, sesak saat cuaca panas terik.
Bencana-bencana tersebut sering kali berakar pada gundulnya hutan dan rusaknya daerah resapan. Di sinilah di antaranya peran bambu menjadi sangat krusial.
Bambu kuning langsing menawarkan solusi ekologis yang terjangkau. Langkah kecil yang sekarang sudah diupayakan di The Gala Puncak, Kelurahan Graha Indah, Kota Balikpapan.
Bambu tidak hanya memberi manfaat, tetapi juga menyajikan udara segar. Ia adalah filter raksasa yang menyaring polusi yang dihasilkan dari keserakahan yang tidak beretika dan bermoral. Mari rayakan lestari hingga akhir hayat.

Manfaat Pohon Bambu Bagi Kehidupan
Pengikat Tanah (Anti-Longsor)
Sistem perakaran bambu yang rapat dan kuat sangat efektif dalam mengikat partikel tanah di area lereng atau pinggiran sungai. Ini mencegah erosi dan meminimalkan risiko longsor di sekitar pemukiman.
Penyerap Air (Anti-Banjir)
Rumpun bambu memiliki daya serap air yang tinggi. Menanam bambu di kawasan resapan atau pinggiran sungai di dekat rumah membantu menjaga siklus air dan mengurangi debit air permukaan yang dapat menyebabkan banjir lokal.
Penyaring Udara (Anti-Polusi)
Seperti tanaman hijau lainnya, bambu sangat efisien dalam menyerap Karbon Dioksida dan melepaskan Oksigen, menciptakan udara yang lebih segar dan bersih di sekitar rumah.
Tanaman Pagar Hijau
Dengan batang dan daun yang kecil serta warna kuning yang menarik, bambu kuning sering dijadikan tanaman landscape atau pagar hidup di depan rumah, memberikan estetika sekaligus membatasi area.
Obat Tradisional
Rebung (tunas bambu) dari bambu kuning dimanfaatkan sebagai bahan obat herbal, misalnya untuk meningkatkan nafsu makan, mengontrol kolesterol jahat (LDL), atau membantu pengobatan sakit lever dan asam urat (meski penggunaan ini bersifat tradisional dan perlu kajian medis lebih lanjut).
Estetika Properti
Warna batangnya yang cerah dan posturnya yang anggun menjadikannya tanaman hias yang populer untuk memperindah halaman rumah.
Sumber Ekonomi Kreatif
Batang bambu kuning dengan diameter relatif kecil dimanfaatkan sebagai bahan baku kerajinan tangan, furnitur, anyaman, atau dekorasi interior rumah tangga (misalnya, frame kaca, rak surat kabar, tiang hias).
(*)












