Ada sebuah cerita yang tidak ditemukan di papan tulis kelas tentang bagaimana sepotong life jacket bisa menjadi penjaga nyawa, dan bagaimana sosok polisi perairan bisa menjadi sahabat paling hangat bagi petualangan masa kecil mereka.
TITIKNOL.ID, BALIKPAPAN – Angin laut di Mako Ditpolairud Polda Kaltim membawa aroma garam dan keceriaan yang berbeda pagi itu, Rabu (17/12/2025).
Di antara deru mesin kapal patroli yang gagah, riuh rendah suara anak-anak dari SDN 008 Balikpapan Barat memecah suasana formal markas kepolisian.
Mengenakan seragam merah-putih yang kontras dengan hijaunya pakaian olahraga, puluhan pasang mata mungil itu menatap takjub pada deretan rubber boat dan alat selam yang berjejer rapi.
Hari itu, mereka tidak hanya datang untuk berkunjung; mereka datang untuk mengenal detak jantung para penjaga samudera.
Tentang Pelampung dan Nyawa
Di bawah bimbingan personel Subdit Patroli, anak-anak ini belajar bahwa laut, meski indah, menyimpan rahasia yang harus diwaspadai.
Dengan tangan-tangan kecil yang antusias, mereka mencoba mengenakan life jacket sebuah benda sederhana yang bagi Polairud adalah pembatas antara maut dan keselamatan.
Tak ada ketegangan, yang ada hanyalah simulasi penuh tawa saat mereka mengenal fungsi alat selam dan tangguhnya perahu karet di atas gelombang.
Namun, edukasi hari itu melampaui sekadar peralatan teknis. Di sudut pesisir, anak-anak ini diajak merunduk, menyentuh lumpur, dan mengenal Rhizophora apiculata si pelindung daratan dari amukan ombak.
Ada pemandangan menyentuh saat jari-jemari mereka mulai menyemai bibit mangrove.
Di sana, di antara butiran sedimen pesisir, mereka bukan sekadar menanam pohon, melainkan sedang menyemai rasa cinta pada biota laut dan ekosistem yang selama ini memberi mereka udara segar.
“Kami ingin menanamkan kesadaran yang melampaui usia mereka,” ungkap Direktur Polairud Polda Kaltim, Kombes Pol Eduward Pardede.
“Bahwa mencintai laut berarti menjaga keselamatannya, dan merawat pesisir berarti menjaga masa depan.”
Pulang Membawa Cakrawala Baru
Kunjungan itu berakhir saat matahari mulai meninggi, meninggalkan jejak kaki di dermaga dan kenangan yang terpatri kuat di ingatan para siswa.
Mereka pulang tidak hanya dengan pengetahuan baru tentang tugas kepolisian, tetapi dengan cakrawala yang lebih luas tentang betapa berharganya birunya laut kita.
Melalui langkah preventif yang humanis ini, Ditpolairud Polda Kaltim telah melukiskan wajah kepolisian yang hangat: seorang sahabat, pelindung, sekaligus guru bagi tunas-tunas muda bangsa.
Di Mako hari ini, sebuah janji telah terucap tanpa kata janji untuk terus menjaga laut tetap biru dan generasi tetap tangguh. (*)












