TITIKNOL.ID, PENAJAM – Dinas Perhubungan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) merencanakan pengoptimalan retribusi Pasar Nenang melalui sistem pembayaran digital menggunakan QRIS. Skema ini ditarget mulai diterapkan pada 2026.
Sekretaris Dishub PPU, Andy Sunra Satriadi Sumaryo, mengatakan penerapan QRIS di Pasar Nenang akan meniru pola yang telah berjalan di Pelabuhan Buluminung.
Menurut dia, sistem digital memungkinkan retribusi masuk langsung ke kas daerah.
“Begitu pakai QRIS dan portal dibuka, pembayaran langsung masuk ke kas daerah. Harapannya Pasar Nenang bisa seperti itu,” ujar Sunra, Minggu (4/1/2026).
Ia menjelaskan, penerapan QRIS di Pelabuhan Buluminung didukung melalui program corporate social responsibility (CSR) Bankaltimtara. Skema serupa diharapkan bisa diterapkan di Pasar Nenang.
“Di Buluminung itu dibiayai CSR Bankaltimtara. Harapannya Pasar Nenang juga bisa dioptimalkan lewat CSR,” kata dia.
Sunra mengakui, kondisi pengelolaan Pasar Nenang saat ini masih jauh dari optimal. Sistem retribusi masih manual, bahkan pengunjung kerap membayar lebih dari satu kali saat masuk dan beraktivitas di dalam pasar.
“Itu yang akan kami rapikan pada 2026. Portal akan ditertibkan, apa kendalanya akan kami benahi supaya optimal,” ujarnya.
Diketahui, pendapatan retribusi Pasar Nenang tercatat sekitar Rp120 juta per tahun. Berdasarkan hasil survei internal Dishub, potensi pendapatan dinilai bisa mencapai Rp300 juta jika pengelolaan ditata dengan baik.
“Potensinya besar, dua kali lipat kalau dioptimalkan,” kata Sunra.
Terkait praktik pungutan liar, Ia tak menampik masih adanya juru parkir liar di dalam kawasan pasar. Namun, penertiban akan dilakukan dengan pendekatan persuasif.
“Kita tidak bisa bilang tidak ada pungli. Tapi jukir juga mencari penghidupan. Pemerintah harus hadir, sekaligus memastikan hak daerah tidak hilang,” tutupnya.
(TN01)












