Bencana boleh saja merendam pemukiman, namun jangan sampai ia menenggelamkan mimpi-mimpi generasi muda Aceh. Inilah alasan mengapa 2.000 beasiswa penuh kini disiapkan untuk mereka
TITIKNOL.ID, ACEH BESAR – Jarak ribuan kilometer antara Kalimantan Timur dan Aceh seolah sirna oleh ikatan persaudaraan yang kuat.
Di tengah perjuangan masyarakat Aceh untuk bangkit dari terjangan bencana, sebuah pesan menyentuh datang dari tanah Borneo.
“Kami ingin masyarakat Aceh tahu bahwa mereka tidak sendirian. Ada cinta dan kepedulian tulus yang mengalir dari Kalimantan Timur,” ungkap Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, saat menginjakkan kaki di Bandara Sultan Iskandar Muda, Jumat (2/1/2026).
Kedatangan Gubernur Kalimantan Timur, Rudy disambut hangat oleh Wakil Gubernur Aceh, H. Fadhlullah beserta istri.
Kunjungan ini bukan sekadar seremoni pejabat daerah, melainkan misi kemanusiaan untuk membawa harapan baru bagi warga yang terdampak banjir.

Jembatan Masa Depan
Kepedulian masyarakat Kaltim diwujudkan secara nyata melalui bantuan kemanusiaan senilai Rp1,5 miliar.
Dana yang dikumpulkan dari partisipasi kolektif warga Kaltim ini difokuskan untuk mendukung masa pemulihan pascabencana.
Tak hanya itu, tim relawan juga diterjunkan langsung ke titik-titik terdampak, salah satunya di Kabupaten Aceh Tamiang, untuk bahu-membahu bersama warga di lapangan.
Namun, kejutan paling berharga hadir di sektor pendidikan. Memahami bahwa bencana bisa mengancam mimpi generasi muda, Pemprov Kaltim secara khusus membuka pintu bagi 2.000 mahasiswa asal Aceh untuk melanjutkan studi di Kalimantan Timur melalui program beasiswa penuh.
“Kami menyediakan kuota beasiswa bagi 2.000 anak muda Aceh. Seluruh biaya pendidikan akan ditanggung sepenuhnya oleh Pemda Kaltim,” tegas Gubernur Rudy Mas’ud.
Langkah strategis ini diharapkan menjadi pilar pemulihan jangka panjang agar pendidikan anak-anak Aceh tidak terhenti akibat kendala ekonomi pascabencana.
Keesokan harinya, Sabtu 3 Januari 2026, rombongan berlanjut menuju Gampong Meunasah Raya, Pidie Jaya.
Di sini, suasana haru sekaligus bahagia menyelimuti pertemuan Gubernur Rudy bersama istri, Hj. Syarifah Suraidah (Bunda Harum), dengan ribuan warga yang masih bertahan di pengungsian.
Menyadari bahwa luka bencana tidak hanya berbentuk fisik, rombongan turut membawa misi trauma healing.
Kehadiran musisi Bergek dan komedian Bang Joni Kapluk berhasil memancing tawa anak-anak di tengah keprihatinan.
Di sudut lain, Bunda Hetti Zuliani, Ph.D, memberikan pendampingan psikososial untuk membantu warga memulihkan kondisi emosional mereka dari trauma banjir hidrometeorologi.
Selain dukungan moral, bantuan logistik berupa Al-Qur’an, perlengkapan sekolah, hingga bahan pokok juga disalurkan melalui koordinasi dengan Yayasan Permata Aceh Mulia (YPAM).
Simbol Solidaritas Nasional
Wakil Gubernur Aceh, H. Fadhlullah, mengapresiasi bantuan ini sembari menceritakan betapa dahsyatnya dampak banjir yang bahkan mengubah bentang alam persawahan warga menjadi daratan material.
Kunjungan ini menegaskan satu hal: bahwa di bawah payung besar Indonesia, duka di ujung barat adalah lara bagi mereka di timur.
Sebagai Ketua Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI), Rudy Mas’ud membuktikan bahwa gotong royong antarprovinsi adalah kunci kekuatan bangsa dalam menghadapi ujian alam.
(*)












