Jangan asal sebar hoaks! Gara-gara isu liar ‘lele dan pentol berbahaya’, banyak pedagang kecil di Kutim yang jadi korban penurunan omzet. Disperindag Kutim akhirnya turun tangan lakukan uji lab diam-diam. Hasilnya? Simak kebenarannya di sini
TITIKNOL.ID, SANGATTA – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutai Timur bergerak cepat menyikat isu liar yang meresahkan warga terkait keamanan pangan di pasaran.
Mulai dari isu daging lele hingga pentol yang dituding mengandung bahan non-halal, semuanya disisir habis melalui uji laboratorium resmi guna memastikan warga aman dari jeratan hoaks pangan.
Pengawas Perdagangan Ahli Muda Disperindag Kutim, Achmad Dony Erviady, menegaskan bahwa pihaknya aktif memantau setiap produk yang beredar, mulai dari camilan olahan hingga Air Minum Dalam Kemasan (AMDK).
Langkah preventif ini diambil demi melindungi konsumen sekaligus menyelamatkan martabat pedagang kecil yang sering menjadi korban stigma negatif.
Operasi “Intelijen” Pangan: Menyamar Jadi Pembeli Uniknya, dalam menjalankan tugas, tim Disperindag Kutim kerap melakukan aksi “penyamaran”.
Mereka membeli sampel produk layaknya konsumen biasa untuk menjamin orisinalitas sampel yang akan diuji secara klinis di laboratorium profesional.
“Kami sering menerima laporan simpang siur, misalnya isu pentol mengandung babi atau zat pewarna pakaian. Saya langsung turun, pura-pura beli, dan kami bawa ke lab. Hasilnya? Ternyata semua itu tidak terbukti. Isu itu tidak ada (kandungannya),” tegas Dony dengan penuh keyakinan.
Hasil uji laboratorium sejauh ini membuktikan bahwa sebagian besar kabar miring yang beredar hanyalah kekhawatiran tanpa dasar ilmiah.
Isu-isu tersebut sering kali lahir dari kesimpulan sepihak masyarakat yang kemudian viral tanpa verifikasi, sehingga memukul omzet para pelaku usaha kecil.
Cegah Sebelum Masalah
Tak hanya makanan, Disperindag Kutim juga memperketat pengawasan pada produk vital seperti Air Minum Dalam Kemasan (AMDK).
Tim telah mengirimkan sejumlah sampel merek AMDK ke laboratorium di Samarinda untuk memastikan standar keamanannya.
“Alhamdulillah, hasilnya bagus dan tidak ada masalah. Kami bergerak lebih awal sebagai langkah antisipasi. Lebih baik mencegah sejak dini daripada menunggu masalah muncul di kemudian hari, apalagi ini produk yang dikonsumsi masyarakat setiap hari,” tambah Dony.
Melalui aksi nyata ini, Disperindag Kutim mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang belum jelas kebenarannya.
Bagi para pedagang, langkah ini merupakan bentuk dukungan pemerintah agar ekosistem perdagangan di Kutai Timur tetap sehat, jujur, dan terpercaya.
(*)












