Jangan tunggu anak jadi korban atau pelaku! Belasan remaja di Balikpapan Barat hampir terlibat tawuran besar sore tadi. Kepala SMPN 4 Balikpapan ingatkan orang tua: ‘Jam 11 malam adalah batas harga mati’. Simak imbauan lengkapnya di sini
TITIKNOL.ID, BALIKPAPAN – Isu tawuran antar-remaja di Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur ternyata bukan sekadar isapan jempol.
Diamankannya belasan pemuda yang diduga hendak bentrok di wilayah Balikpapan Barat pada Minggu (18/1/2026) menjadi sinyal darurat bagi seluruh elemen pendidikan dan keluarga.
Kepala SMP Negeri 4 Balikpapan, Afandi, yang hadir langsung saat prosesi pemulangan anak-anak kepada pihak keluarga di Mapolsek Balikpapan Barat, menyebut insiden ini sebagai pengingat pahit.
Menurutnya, fenomena ini adalah realita yang membutuhkan penanganan kolektif, bukan sekadar saling tuding.
“Alhamdulillah, Allah membukakan jalan lewat kejadian ini. Kita jadi tersadar bahwa persoalan ini benar-benar ada di Balikpapan Barat, bukan sekadar isu,” ungkap Afandi dengan nada prihatin.
Tembok Pertahanan Mulai dari Rumah Afandi menyoroti titik lemah yang sering menjadi celah kenakalan remaja, yakni kelonggaran pengawasan di rumah, terutama saat akhir pekan.
Ia mendesak para orang tua untuk lebih berani bersikap tegas dalam memberlakukan batasan waktu bagi anak-anak mereka.
Orangtua harus punya kendali. Minimal pukul 23.00 Wita anak sudah harus di rumah.
Jika dibiarkan sekali, mereka akan melunjak ke jam 12 malam dan seterusnya.
“Jangan sampai kita acuh melihat anak-anak berkumpul hingga larut malam,” tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat sekitar untuk proaktif. Jika melihat kerumunan remaja yang mencurigakan, apalagi membawa benda-benda membahayakan, warga diharapkan tidak ragu untuk menegur atau melapor.
Pembinaan Karakter Tanpa Diskriminasi Terkait dugaan keterlibatan siswanya, Afandi melihat faktor “takut dikucilkan teman” sebagai pemicu utama anak-anak ikut terjun dalam pergaulan yang salah.
Meski begitu, SMPN 4 Balikpapan memilih pendekatan persuasif ketimbang sanksi keras. Sekolah tidak akan mengeluarkan atau mendiskriminasi siswa tersebut, melainkan menjadikannya sebagai Ibrah atau pembelajaran berharga.
“Tidak ada sanksi, tapi kami lakukan pembinaan intensif bersama orang tua agar anak-anak ini kembali ke jalur yang benar,” tambah Afandi.
Dari Pesan Subuh hingga Absensi Ibadah
SMPN 4 Balikpapan sejatinya telah menerapkan program “Tujuh Pembiasaan” untuk membentengi karakter siswa.
Komitmen ini bahkan dilakukan Afandi secara pribadi dengan mengirimkan pesan singkat kepada wali kelas dan orang tua setiap hari sebelum fajar menyingsing.
“Setiap hari, sebelum Subuh, saya kirim pesan agar anak-anak dibangunkan untuk beribadah. Di sekolah pun, shalat Zuhur berjamaah kami absensi satu per satu. Jika ada yang mangkir, orang tuanya langsung kami panggil,” urainya.
Menutup keterangannya, Afandi berpesan agar filosofi bermasyarakat dipahami secara benar oleh para siswa.
Ia menyindir tren penggunaan atribut ibadah yang disalahgunakan untuk aksi kekerasan.
“Sarung itu untuk ibadah, bukan untuk perang-perangan. Mari kita bimbing anak-anak kita agar mampu memilih yang baik dan menjauhi yang buruk demi masa depan mereka sendiri,” pungkasnya.
(*)












