MahuluTitiknolKaltim

Sembako ke Mahulu Terancam Macet, Pengusaha Kapal Mahakam Ancam Mogok Mulai Sabtu 

138
×

Sembako ke Mahulu Terancam Macet, Pengusaha Kapal Mahakam Ancam Mogok Mulai Sabtu 

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi kapal penyebrang Sungai Mahakam, Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Peringatan darurat bagi warga Mahulu dan Kutai Barat! Mulai Sabtu besok, transportasi sungai terancam lumpuh total. Gara-gara kuota BBM subsidi belum jelas, para pengusaha kapal terpaksa mogok karena tak kuat beli minyak industri. Siap-siap pasokan sembako ke hulu bisa terhambat! Simak berita lengkapnya

TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Arus transportasi sungai yang menghubungkan Samarinda menuju Kutai Barat (Kubar) dan Mahakam Ulu (Mahulu) berada di ambang kelumpuhan.

Para pengusaha kapal angkutan mengancam akan menghentikan seluruh operasional mulai Sabtu, 24 Januari 2026, menyusul terhentinya pasokan BBM subsidi bagi armada mereka.

Kondisi ini dipicu oleh belum terbitnya surat rekomendasi dari Badan Pengatur Hilirisasi Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).

Tanpa surat tersebut, Dinas Perhubungan baik tingkat Provinsi maupun Kota Samarinda tidak memiliki dasar hukum untuk menyalurkan kuota BBM subsidi yang menjadi penopang utama operasional kapal.

Haji Iwan, salah satu pemilik kapal Akbar Amanda 1, mengungkapkan bahwa untuk keberangkatan terakhir pada Sabtu ini, ia terpaksa merogoh kocek lebih dalam dengan menggunakan BBM nonsubsidi (industri).

Langkah darurat ini diambil demi menjaga komitmen kepada pelanggan dan memastikan pasokan sembako ke wilayah hulu tidak terputus.

“Kami terpaksa beli minyak di luar dengan harga dua kali lipat. Jika subsidi sekitar Rp6.000-an per liter, sekarang kami harus beli harga industri Rp13.000 hingga Rp14.000 per liter. Per drumnya bisa mencapai Rp2,5 juta hingga Rp2,7 juta,” ungkap Iwan saat ditemui di Pelabuhan Sungai Kunjang, Jumat (23/1/2026).

Iwan menegaskan, menggunakan BBM industri bukanlah solusi berkelanjutan.

Biaya operasional yang membengkak tidak lagi tertutup oleh tarif angkutan yang telah ditetapkan bersama Organda.

Ia memberikan ultimatum jika dalam satu hingga dua hari ke depan belum ada kepastian mengenai kuota BBM subsidi, seluruh kapal dipastikan akan “parkir” dan tetap diikat di Dermaga Pelabuhan Sungai Kunjang.

Baca Juga:   Terungkap, Faktor Dominan Penyebab Kecelakaan Lalu-lintas di Mahakam Ulu Kaltim 

“Besok (Sabtu) adalah keberangkatan terakhir. Setelah itu, tidak ada lagi kapal yang berangkat karena tidak ada minyak. Jika sebulan dua bulan tetap tidak ada keputusan pemerintah, semua kapal akan kami ikat di sini,” tegasnya.

Urat Nadi Distribusi Pedalaman

Keberadaan kapal-kapal ini merupakan urat nadi utama bagi masyarakat di pedalaman Kalimantan Timur.

Setiap harinya, setidaknya ada dua kapal taksi yang berangkat dari Samarinda menuju Kubar dan Mahulu, serta dua kapal yang datang dari arah sebaliknya.

Dengan kapasitas angkut yang besar, mulai dari 70 ton hingga 150 ton per unit, 28 kapal yang terdaftar di pelabuhan ini mengemban tugas berat mendistribusikan kebutuhan pokok dan memobilisasi warga.

“Setiap hari kapal berangkat membawa barang dari Samarinda ke hulu dan membawa hasil bumi dari hulu ke Samarinda. Kalau ini berhenti, distribusi barang ke pedalaman otomatis lumpuh,” pungkas Iwan.

(*)