TITIKNOL.ID, PENAJAM – Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah berjalan belakangan ini. Namun, petani lokal di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) belum terserap dalam rantai pasok program yang dijalankan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Meski demikian, Dinas Pertanian (Distan) PPU menegaskan kesiapan petani sebenarnya sudah ada, tinggal menunggu skema kebutuhan dari Dinas Ketahanan Pangan (DKP).
Kepala Distan PPU, Andi Trasodiharto, menyebut, secara alur, keterlibatan petani lokal dalam MBG merupakan bagian dari sistem ketahanan pangan, yang mana dinasnya fokus pada produksi, sementara pemetaan kebutuhan berada di DKP.
“Ini bagian dari ketahanan pangan. Alurnya nanti terkopi dengan DKP. Kami tugasnya memproduksi, mencetak. Pasangannya ketahanan pangan,” ucap Andi, Minggu (25/1/2026).
Ia mengakui, sampai saat ini belum ada koordinasi teknis dengan pengelola SPPG terkait kebutuhan bahan pangan MBG. Karena itu, serapan hasil pertanian lokal belum berjalan.
“Sejauh ini memang belum ada koordinasi. Tapi kami yakin ketika pelaksanaan itu sudah berjalan, kami sudah menyiapkan pelurunya,” katanya.
Dinas Pertanian, lanjutnya, siap menyesuaikan produksi petani lokal jika sudah ada kejelasan kebutuhan dari SPPG.
Pengaturan pola tanam akan dilakukan berdasarkan jenis dan volume komoditas yang dibutuhkan.
“Kalau memang dibutuhkan, kita bisa setting petani A tanam sayuran apa. Kami dan teman-teman penyuluh akan mendampingi,” jelas Andi.
Ia mencontohkan, kebutuhan sayuran tertentu seharusnya bisa dipenuhi petani lokal tanpa harus mendatangkan pasokan dari luar daerah.
“Misalnya seledri, masa harus didatangkan. Distan siap membreakdown mana yang dibutuhkan,” ucapnya.
Saat ini, Dinas Pertanian PPU tengah melakukan pemetaan potensi produksi. Untuk beras, ia memastikan stok tidak menjadi persoalan. Sementara untuk sayuran dan buah-buahan, petani PPU mampu memproduksi jeruk, pisang, hingga pepaya.
Bahkan, di sektor protein hewani, pengembangan ayam potong juga terus dilakukan.
“Setelah kami produksi, nanti yang memetakan kebutuhan SPPG itu ketahanan pangan. Kami tinggal mencetak sesuai permintaan,” katanya.
Ia tak menampik kemungkinan keterlibatan pihak rekanan atau mekanisme tender dalam pelaksanaan MBG. Namun menurutnya, petani lokal tetap memiliki peluang jika dipertimbangkan dari sisi kesegaran dan harga.
“Kalau sejauh ini belum bermitra, tidak menutup kemungkinan produksi petani kami bisa lebih murah dan segar,” tutupnya.
(TN01)












