Jembatan Mahulu resmi ditutup untuk kendaraan berat! Puluhan truk terjebak di Loa Janan Ilir akibat jadwal pemasangan portal yang dianggap mendadak
TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur resmi menutup akses bagi kendaraan berat di Jembatan Mahulu, Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur pada Kamis (29/1/2026).
Langkah tegas ini diambil menyusul pemasangan portal permanen sebagai respons atas insiden tertabraknya pilar jembatan oleh tongkang untuk ketiga kalinya dalam waktu singkat.
Pemasangan portal setinggi 2,45 meter tersebut dimulai tepat pukul 10.00 Wita.
Dengan bantuan satu unit crane truck, struktur besi kokoh berwarna kuning itu kini melintang di mulut jembatan, membatasi kendaraan bertonase besar demi kepentingan uji kelayakan struktur jembatan yang terancam.
Akibatnya, kendaraan roda enam ke atas terpaksa diputarbalikkan.
Pantauan di lapangan menunjukkan puluhan truk kini menumpuk di sepanjang ruas Jalan Moeis Hasan, Kecamatan Loa Janan Ilir, menciptakan pemandangan barisan kendaraan berat yang tak berdaya.
Sopir Mengeluh, Jadwal Meleset
Kekecewaan mendalam menyelimuti para sopir. Jarno (73), salah satu sopir senior, mengaku terkejut karena portal sudah terpasang permanen pada pukul 10.30 Wita, lebih awal dari informasi yang beredar bahwa penutupan baru dimulai pukul 12.00 Wita.
“Ya sebetulnya kami minta maaf, tapi kami kan cari makan buat anak istri,” ungkap Jarno lirih saat berteduh di bawah pohon bersama rekan sejawatnya.
Bagi Jarno, waktu adalah uang. Membawa muatan tawas dari Pelabuhan Palaran menuju pergudangan di Jalan Ir. Sutami, ia kini terjepit pilihan sulit.
Menggunakan jalur alternatif via Jembatan Tenggarong dianggap terlalu jauh, sementara opsi melintasi Jembatan Mahakam IV hanya diperbolehkan pada pukul 22.00 hingga 05.00 Wita.
Dilema Upah dan Usia Senja
Di usianya yang sudah memasuki 73 tahun, Jarno masih harus berjuang di jalanan.
Sistem upah yang bergantung pada jumlah angkutan membuat penutupan ini menjadi pukulan telak bagi dapurnya.
“Saya dibayar Rp500.000 sekali antar. Biasanya bisa dua kali sehari, jadi dapat Rp1 juta. Kalau tertahan begini, jelas kami rugi besar. Kasihan hidup kami di jalan,” keluhnya.
Penutupan Jembatan Mahulu memang krusial untuk keselamatan publik pasca-insiden tabrakan tongkang, namun di sisi lain, nasib para pejuang jalanan seperti Jarno kini bergantung pada solusi cepat dari pemangku kebijakan.
(*)












