Di era kecerdasan buatan tahun 2026, apa yang Anda lihat dan dengar bukan lagi jaminan kebenaran. Ketika wajah dan suara bisa dipalsukan dengan sempurna oleh deepfake, masihkah kita bisa membedakan fakta dari manipulasi digital?
TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Samarinda, Aji Syarif Hidayatullah, menghadiri Webinar Sandikamimania Series #68 bertajuk “Deepfake dan AI 2026: Ancaman Baru bagi Masyarakat Digital”, Rabu (28/1/2026).
Acara yang digelar secara daring oleh Diskominfo Provinsi Jawa Barat ini diikuti oleh ratusan peserta, mulai dari aparatur pemerintah hingga praktisi teknologi informasi.
Webinar ini menyoroti tren teknologi Artificial Intelligence (AI) yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian.
Meski menjadi mesin penggerak transformasi digital, AI menyimpan sisi gelap: teknologi deepfake.
Teknologi ini mampu memanipulasi video, suara, dan gambar dengan tingkat presisi yang luar biasa sehingga sulit dibedakan dari aslinya.
Usai menyimak paparan materi, Aji Syarif Hidayatullah menegaskan bahwa literasi digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Menurutnya, pemahaman teknologi tidak boleh terbatas pada kalangan teknis saja.
“Kita menggunakan AI untuk mempermudah pekerjaan, tapi jangan sampai kita justru menjadi korban kejahatan teknologi tersebut. Masyarakat harus bijak, beradaptasi, dan meningkatkan kewaspadaan karena di era sekarang, apa yang kita lihat dan dengar belum tentu asli,” ujar Aji.
Senjata Manipulasi Baru
Dalam sesi materi, para peserta mendapatkan edukasi mengenai risiko deepfake yang kerap disalahgunakan untuk pemalsuan pidato pejabat publik, penipuan suara (vishing), hingga penyebaran hoaks berskala besar.
Dampaknya pun tidak main-main, mulai dari kerugian finansial hingga ancaman terhadap stabilitas sosial dan demokrasi.
Pemateri dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Jodie Prasetyo, menjelaskan bahwa pemerintah terus memperkuat regulasi, termasuk melalui Undang-undang ITE dan UU Pelindungan Data Pribadi (PDP).
Namun, ia mengingatkan bahwa pertahanan terkuat bukan hanya pada regulasi, melainkan pada kesiapan sumber daya manusia.
Kehilafan satu orang saja dapat menyebabkan keruntuhan sebuah negara.
“Pesan dari Mayjen TNI dr. Roebiono Kertopati ini menjadi pengingat pentingnya kehati-hatian dalam mengelola informasi di ruang digital,” ungkap Jodie.
Sikap Kritis di Ruang Digital
Senada dengan hal tersebut, praktisi keamanan siber Nazar Firman Pratama menekankan pentingnya sikap skeptis yang sehat.
Di tengah tingginya adopsi AI di Indonesia, masyarakat diimbau untuk selalu memverifikasi sumber informasi dan tidak mudah terprovokasi oleh konten yang viral namun meragukan.
Melalui webinar ini, diharapkan sinergi antara pemerintah dan masyarakat semakin kuat dalam menciptakan ruang digital yang aman dan tepercaya.
Dengan literasi yang baik, kemajuan teknologi AI diharapkan tetap menjadi solusi, bukan ancaman bagi kepentingan bersama.
(*)












