Di tengah gempuran tantangan zaman yang semakin kompleks, masih adakah tempat bagi nilai moral dan budaya lokal untuk tumbuh? Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, menemukan jawabannya dalam peringatan 100 tahun Perguruan Ilmu Sejati
TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, menghadiri peringatan satu abad atau HUT ke-100 Perguruan Ilmu Sejati yang digelar oleh Perwakilan Daerah Palaran.
Acara bersejarah ini berlangsung khidmat di Gedung Perguruan Ilmu Sejati, Jalan Karya Bakti, Kelurahan Rawa Makmur, Kecamatan Palaran, Kota Samarinda, Kalimantan Timur pada Sabtu (31/1/2026).
Peringatan 100 tahun ini menjadi momentum istimewa yang mempererat tali kekeluargaan.
Selain Wakil Wali Kota, hadir pula Kepala Kesbangpol Samarinda Yosua Laden, Camat Palaran Muhammad Dahlan, Lurah Rawa Makmur Sugik, serta Romo Perguruan Ilmu Sejati, R. Kresno Dwipoyono Prawiro Sudarso, S.E.
Dalam sambutannya, Saefuddin Zuhri memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi perguruan ini dalam membina karakter masyarakat sejak didirikan oleh almarhum Raden Soedjono Prawiro Soedarso pada tahun 1925.
Seratus tahun adalah perjalanan panjang yang mencerminkan keteguhan dan kepercayaan masyarakat.
“Perguruan Ilmu Sejati telah menjadi wadah pembinaan budi pekerti yang penting di berbagai daerah di Indonesia,” ujar Wawali.
Syarat Menjaga Pondasi Persatuan
Ia menekankan bahwa di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, nilai-nilai moral, etika, dan budaya lokal yang diajarkan perguruan ini menjadi fondasi penting untuk menjaga persatuan dan toleransi.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal, Wakil Wali Kota menyerahkan tokoh wayang secara simbolis kepada Romo Perguruan Ilmu Sejati.
Wayang tersebut dipilih karena filosofinya yang mendalam sebagai tuntunan moral dan warisan budaya bangsa.
Tak hanya soal budaya, acara ini juga diwarnai dengan aksi nyata lewat penyerahan bingkisan bakti sosial kepada warga sekitar. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai ajaran perguruan tidak hanya berhenti pada teori, tetapi juga diwujudkan dalam kepedulian sosial.
Rangkaian acara satu abad ini ditutup dengan pagelaran wayang kulit yang diikuti dengan antusias oleh keluarga besar perguruan dan masyarakat setempat.
(*)












