MahuluTitiknolKaltim

Smart Packaging dari Limbah Singkong Asal Mahakam Ulu Siap Unjuk Gigi di Penas Gorontalo

149
×

Smart Packaging dari Limbah Singkong Asal Mahakam Ulu Siap Unjuk Gigi di Penas Gorontalo

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi pengolahan limbah sampah singkong oleh petani untuk dijadikan barang bernilai guna. Masyarakat Kampung Lutan, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Provinsi Kalimantan Timur, kembali menorehkan prestasi melalui inovasi ramah lingkungan. (Gemini Ai)

Bukan sekadar plastik biasa! Inovasi asal Mahakam Ulu ini bisa berubah warna kalau daging ayam yang Mas beli sudah busuk. Kok bisa? Intip kecanggihan Biolut yang bakal wakili Kaltim di ajang Penas Gorontalo

TITIKNOL.ID, UJOH BILANG – Masyarakat Kampung Lutan, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Provinsi Kalimantan Timur, kembali menorehkan prestasi melalui inovasi ramah lingkungan.

Sebuah produk kemasan pintar bernama Biolut (Bioplastik Lutan) berhasil dikembangkan dengan memanfaatkan limbah singkong dan kulit buah naga.

Kampung Lutan, yang menyandang status sebagai satu-satunya desa mandiri di Mahakam Ulu, kini menjadi sorotan berkat teknologi kemasan yang tidak hanya mudah terurai (biodegradable), tetapi juga mampu mendeteksi senyawa berbahaya pada makanan.

Penggagas inovasi ini, Sigit, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Desa Lutan, menjelaskan bahwa Biolut memiliki keunggulan spesifik dibandingkan bioplastik yang sudah banyak digunakan perusahaan ritel besar.

“Bedanya, inovasi ini dirancang sebagai smart packaging. Biolut mampu mendeteksi adanya senyawa berbahaya dalam makanan,” ujar Sigit.

Bahan utama Biolut berasal dari limbah kulit pati singkong yang dipadukan dengan ekstrak kulit buah naga merah.

Kandungan dari kulit buah naga inilah yang berfungsi sebagai indikator alami untuk memantau kesegaran daging, terutama ayam broiler.

Karena kulit buah naga memiliki sensitivitas terhadap kadar pH (asam-basa), kemasan akan mengalami perubahan warna.

Jika plastik yang semula berwarna putih kemerahan berubah menjadi merah kebiruan.

“Itu menandakan daging ayam sudah tidak segar lagi,” jelasnya.

Lebih canggih lagi, Biolut juga mampu mendeteksi kandungan formalin.

Indikasinya cukup sederhana; struktur plastik akan mengalami kerusakan atau hancur jika terpapar zat pengawet berbahaya tersebut.

Menuju Panggung Nasional di Gorontalo

Prestasi Biolut tidak datang tiba-tiba. Sebelumnya, tim pengembang dari Kampung Lutan telah sukses menyabet Juara 1 Nasional dalam lomba swasembada pangan pada tahun 2025.

Baca Juga:   Tragedi Proyek RDMP Lawe-Lawe PPU, Perusahaan Subkon Proyek KPB Disorot

Berbekal rekam jejak gemilang tersebut, Biolut dijadwalkan mewakili Provinsi Kalimantan Timur dalam ajang bergengsi Pekan Nasional (Penas) di Gorontalo bulan ini.

Inovasi ini akan bertanding di kategori inovasi ketahanan pangan.

Inovasi ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi bagi tumpukan sampah plastik, tetapi juga memberikan perlindungan konsumen melalui kemasan pangan yang sehat dan informatif. (*)