TITIKNOL.ID, GUNUNG SARI – Sampah plastik tidak harus berakhir sebagai limbah. Dengan pengetahuan, keterampilan, dan dukungan teknologi tepat guna, sampah plastik dapat diolah menjadi bahan yang memiliki nilai tambah.
Upaya tersebut dilakukan Universitas Kaltara (UNIKALTAR) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bersama Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Bank Sampah Wanita Mandiri Desa Gunung Sari, Kecamatan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan.
Rangkaian program pemberdayaan masyarakat tersebut dilaksanakan secara bertahap. Sebelum memasuki kegiatan utama pada 2–3 September 2026, tim PkM Universitas Kaltara telah melakukan penyerahan mesin pencacah plastik kepada mitra, sosialisasi pra-kegiatan, serta peningkatan kapasitas manajemen usaha melalui pelatihan pencatatan transaksi bank sampah.
Rangkaian awal tersebut menjadi bagian penting untuk mempersiapkan mitra, baik dari sisi teknologi maupun pengelolaan usaha. Mesin pencacah plastik disiapkan sebagai teknologi pendukung untuk mempercepat proses penyiapan bahan baku, sementara penguatan manajemen diarahkan agar kegiatan bank sampah memiliki pencatatan transaksi yang lebih tertib dan dapat menjadi dasar pengembangan usaha.
Tim PkM Universitas Kaltara terdiri atas Dady Sulaiman selaku ketua pelaksana, Nurus Soimah, dan Siti Maria Ulva. Program ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas KSM Bank Sampah Wanita Mandiri dalam mengolah sampah plastik sekaligus mendorong pemanfaatannya menjadi produk yang memiliki nilai tambah ekonomi.
Setelah tahapan persiapan tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi pengolahan sampah plastik pada 2 September 2026 di Desa Gunung Sari. Peserta mendapatkan pemahaman mengenai sampah rumah tangga, jenis-jenis sampah plastik, karakteristik dan penggunaannya, serta pentingnya pengelolaan sampah yang tepat.
Materi sosialisasi juga memperkenalkan konsep 3R, yaitu Reduce, Reuse, dan Recycle. Reduce dilakukan dengan mengurangi penggunaan barang yang berpotensi menjadi sampah, terutama plastik sekali pakai. Reuse dilakukan dengan menggunakan kembali barang sebelum dibuang, sedangkan recycle merupakan upaya mengolah sampah yang sudah tidak dapat digunakan menjadi bahan atau produk baru.
Dalam materi tersebut, proses recycle diperkenalkan melalui contoh sederhana, yaitu sampah plastik yang dipilah, dicacah, kemudian diolah menjadi produk baru seperti eco-paving.
Pendekatan ini diharapkan dapat mengubah cara pandang masyarakat bahwa sampah plastik tidak selalu harus menjadi beban lingkungan, tetapi masih dapat dimanfaatkan kembali melalui proses pengolahan yang tepat.
Memasuki hari kedua, 3 September 2026, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan eco-paving ramah lingkungan. Pelatihan dilakukan melalui penyampaian materi, demonstrasi, dan praktik langsung bersama anggota KSM Bank Sampah Wanita Mandiri.
Salah satu tahapan penting dalam pelatihan adalah pemanfaatan mesin pencacah plastik yang sebelumnya telah diserahkan kepada mitra. Sampah plastik yang telah dipilah dan disiapkan kemudian dicacah menjadi ukuran yang lebih kecil sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan dalam pembuatan eco-paving.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan pada dua alternatif formulasi pembuatan eco-paving, yaitu formulasi berbasis semen serta formulasi berbasis resin.
Pada formulasi pertama, eco-paving dibuat menggunakan campuran semen, pasir, dan cacahan plastik. Perbandingan yang diperkenalkan adalah semen : pasir : plastik, dengan cacahan plastik sekitar 10 persen dari massa pasir. Untuk satu batch, bahan yang digunakan terdiri atas sekitar 1.000 gram semen, 3.000 gram pasir, 300 gram cacahan plastik, dan air sekitar 400–500 gram yang ditambahkan secara bertahap.
Prosesnya dimulai dengan menyiapkan dan mengayak pasir serta menyiapkan cacahan plastik. Seluruh bahan kemudian ditimbang sesuai komposisi dan dicampur dalam kondisi kering hingga merata.
Air ditambahkan sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga campuran mencapai kondisi lembap-padat. Campuran kemudian dimasukkan ke dalam cetakan dan dipadatkan hingga tidak terdapat rongga udara, sebelum dilakukan proses pengerasan atau curing.
Alternatif kedua menggunakan resin dan cacahan plastik, dengan perbandingan 60 persen resin dan 40 persen plastik. Dalam satu batch, formulasi yang diperkenalkan terdiri atas sekitar 750 gram resin polyester atau epoxy, 500 gram cacahan plastik, serta katalis atau hardener sekitar 1–2 persen dari berat resin.
Pada formulasi ini, cacahan plastik yang telah bersih dan kering ditimbang sesuai komposisi. Resin kemudian dicampur dengan katalis atau hardener sesuai dosis. Setelah itu, cacahan plastik dimasukkan dan diaduk hingga seluruh permukaannya terlapisi resin secara merata.
Campuran kemudian dituangkan ke dalam cetakan yang telah diberi mold release dan dipadatkan untuk mengurangi rongga udara. Produk selanjutnya didiamkan pada suhu ruang untuk proses curing awal hingga cukup keras, kemudian dilepas dari cetakan dan dirapikan. Proses curing dilanjutkan selama beberapa hari hingga produk mencapai kondisi pengerasan yang lebih sempurna.
Dua formulasi tersebut memberikan pemahaman kepada peserta mengenai alternatif pemanfaatan cacahan plastik sebagai bagian dari bahan pembuatan paving block. Pada formulasi semen, semen menjadi bahan pengikat utama dengan pasir sebagai material utama, sedangkan pada formulasi resin, resin berfungsi sebagai bahan pengikat atau matriks dan cacahan plastik menjadi bagian dari material pengisi atau penguat.
Pelatihan juga memberikan pemahaman mengenai perbedaan karakteristik kedua pendekatan tersebut. Formulasi berbasis resin memiliki ketahanan terhadap air yang baik dan cenderung menghasilkan produk yang lebih ringan, tetapi membutuhkan penanganan bahan kimia berupa resin dan katalis.
Sementara formulasi berbasis semen menggunakan proses yang lebih familiar karena menyerupai pembuatan paving beton konvensional.
Ketua Tim PkM Universitas Kaltara, Dady Sulaiman, mengatakan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan mengajarkan masyarakat membuat produk dari sampah plastik, tetapi juga membangun cara pandang baru terhadap pengelolaan sampah.
“Kami ingin mendorong agar sampah plastik tidak hanya dilihat sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga sebagai sumber daya yang masih dapat diolah dan memiliki nilai tambah. Karena itu, teknologi harus berjalan bersama dengan pengetahuan dan kemampuan masyarakat.”
Menurut Dady, keberadaan mesin pencacah menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Namun, menurutnya, pemberian teknologi harus diikuti dengan peningkatan kemampuan masyarakat agar alat yang diberikan benar-benar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
“Mesin ini adalah bagian dari proses.
Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat mampu mengoperasikannya, memahami proses produksinya, menjaga kualitas produk, dan nantinya mengelola kegiatan tersebut secara mandiri.”
Selain keterampilan produksi, aspek manajemen usaha juga menjadi perhatian dalam rangkaian program. Sebelum pelaksanaan sosialisasi dan pelatihan pada 2–3 September, mitra telah mendapatkan peningkatan kapasitas dalam pengelolaan administrasi melalui pelatihan pencatatan transaksi bank sampah.
Pencatatan transaksi menjadi bagian penting dalam pengembangan bank sampah karena memungkinkan setiap aktivitas penerimaan dan transaksi sampah terdokumentasi dengan lebih tertib. Penguatan administrasi tersebut diharapkan menjadi dasar bagi mitra untuk mengetahui aktivitas usaha sekaligus memudahkan pengembangan pengelolaan keuangan pada tahap berikutnya.
Dengan demikian, rangkaian kegiatan tidak hanya menyentuh persoalan teknologi dan produksi, tetapi juga membangun fondasi pengelolaan usaha. Masyarakat diperkenalkan pada proses yang terintegrasi mulai dari pengelolaan sampah, pemilahan, pencacahan, pengolahan menjadi produk, hingga pencatatan aktivitas usaha.
Program ini merupakan kelanjutan dari pendampingan yang telah dilakukan sebelumnya oleh dosen Universitas Kaltara bersama KSM Bank Sampah Wanita Mandiri Desa Gunung Sari. Jika pada tahap sebelumnya masyarakat telah diperkenalkan dengan pengolahan sampah plastik menjadi eco-paving, program kali ini diarahkan untuk memperkuat teknologi produksi, keterampilan masyarakat, serta kapasitas pengelolaan usaha.
Dady berharap rangkaian kegiatan tersebut tidak berhenti setelah pelatihan selesai.
“Kami berharap proses ini tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Pengetahuan dan teknologi yang sudah diberikan dapat terus dimanfaatkan oleh mitra sehingga pengelolaan sampah plastik dapat berkembang menjadi kegiatan produktif yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.”
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) atas dukungan yang diberikan terhadap pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat tersebut.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Kemdiktisaintek yang telah memberikan dukungan sehingga kegiatan ini dapat dilaksanakan dan teknologi yang dikembangkan perguruan tinggi dapat hadir langsung di tengah masyarakat. Dukungan seperti ini sangat penting agar hasil pengetahuan dan teknologi dari perguruan tinggi tidak berhenti di kampus, tetapi dapat memberikan manfaat secara langsung bagi masyarakat.”
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Universitas Kaltara, Pemerintah Desa Gunung Sari, serta KSM Bank Sampah Wanita Mandiri yang telah menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program.
“Terima kasih kepada KSM Bank Sampah Wanita Mandiri yang telah menjadi mitra dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias. Terima kasih
juga kepada Pemerintah Desa Gunung Sari atas dukungan yang diberikan. Semoga kolaborasi ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat dan lingkungan.”
Melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah desa, dan kelompok masyarakat, sampah plastik yang sebelumnya dipandang sebagai persoalan lingkungan diarahkan menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali. Dari proses pemilahan, pencacahan, pencampuran bahan, pencetakan, hingga proses pengerasan, masyarakat diperkenalkan pada rangkaian pengolahan yang menghubungkan persoalan lingkungan dengan peluang penciptaan nilai ekonomi.
Upaya tersebut menjadi salah satu langkah menuju ekonomi sirkular di tingkat desa, ketika sampah tidak lagi sekadar dikumpulkan dan dijual dalam bentuk mentah, tetapi mulai diolah menjadi bahan baku dan produk yang memiliki nilai tambah. Dengan dukungan teknologi, peningkatan keterampilan, dan penguatan manajemen usaha, KSM Bank Sampah Wanita Mandiri diharapkan dapat terus berkembang menjadi kelompok masyarakat yang tidak hanya berperan dalam mengurangi persoalan sampah, tetapi juga mampu menciptakan manfaat ekonomi dari sampah yang dikelolanya. (*/)












