TITIKNOL.ID, NUSANTARA – Di tengah gegap gempita pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), ada suara lirih namun kuat yang ikut menyuarakan dukungannya.
Suara itu datang bukan dari gedung pencakar langit, bukan pula dari ruang rapat berpendingin, melainkan dari sawah yang basah oleh embun dan laut yang asin oleh perjuangan.
Mereka adalah para petani dan nelayan – penjaga pangan Nusantara – yang kini tak sekadar memberi makan negeri, tapi juga ikut menanam harapan di tanah ibu kota baru.
Lewat Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), mereka menyatakan diri sebagai garda terdepan dalam mendukung keberlanjutan pembangunan IKN Nusantara.
Bukan sekadar slogan kosong, komitmen ini akan mereka bawa langsung ke Presiden, dalam bentuk sebuah surat, sederhana tapi penuh makna “Lanjutkan IKN.”
Akar yang Menopang Kota
Dalam kunjungannya ke kawasan IKN, para anggota KTNA tak hanya datang untuk berfoto atau seremoni.
Mereka turun langsung ke Zona E Puspantara, Desa Sukomulyo, sebuah lahan yang dirancang menjadi taman buah.
Di sini, mereka melihat, menilai, dan yang paling penting: menyatu.
Langkah ini menjadi wujud nyata dari mimpi besar, menjadikan IKN Nusantara tidak hanya indah dipandang, tapi juga berdiri kokoh di atas kemandirian pangan.
Pemerintah menargetkan 10 persen dari wilayah IKN menjadi kawasan produksi pangan berkelanjutan dan KTNA siap menjadi penggeraknya.
Tak berhenti di darat, mereka juga menyentuh air. Sebanyak 10.000 ekor benih ikan papuyu, ikan endemik Kalimantan, ditebar di Embung MBH IKN Nusantara.
Sebuah simbol kecil, namun sarat makna: bahwa menjaga ekosistem adalah bagian tak terpisahkan dari membangun masa depan.
Petani dan Nelayan, Jantung Kota Hutan
Ketua KTNA Nasional, Yadi Sofyan Noor, menegaskan bahwa keterlibatan petani dan nelayan bukanlah tempelan, melainkan bagian penting dari narasi besar pembangunan.
“KTNA dukung keberlanjutan pembangunan IKN, dan siap berada di garis terdepan,” ujarnya, Senin (22/9/2025).
Dukungan ini mendapat sambutan hangat dari Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, yang menyebut bahwa 36 juta anggota KTNA adalah kekuatan besar yang akan menopang mimpi Indonesia ke depan.
IKN bukan sekadar kota modern dengan label “smart city” atau “forest city”.
Ia adalah janji tentang masa depan yang inklusif, di mana kemajuan teknologi berpadu dengan kearifan lokal, dan di mana petani serta nelayan bukan lagi penonton, melainkan pelaku utama pembangunan.
Dengan target menjadikan IKN sebagai Ibu Kota Politik pada 2028, sebagaimana tertuang dalam Perpres Nomor 79 Tahun 2025, kebutuhan akan ketahanan pangan menjadi semakin mendesak.
Dan di sinilah peran petani dan nelayan menjadi tak tergantikan.
Mereka hadir, bukan hanya sebagai penyedia pangan, tetapi sebagai penjaga ekosistem, penyambung tradisi, dan pengingat bahwa ibu kota baru haruslah lahir dari akar yang kuat: alam dan rakyat. (*)










