Nasional

Potensi Perbedaan Awal Ramadan 1447 H, Ini Penjelasan Kemenag

63
×

Potensi Perbedaan Awal Ramadan 1447 H, Ini Penjelasan Kemenag

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Puasa Ramadhan 2024 (HO/Istimewa)

TITIKNOL.ID – Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat, menyatakan potensi perbedaan penetapan awal Ramadan di Indonesia merupakan hal yang wajar.

Perbedaan itu kerap terjadi akibat perbedaan metode dalam menentukan awal bulan Hijriah.

‎“Sebenarnya kalau berbeda itu biasa, karena cara pandang dan cara penetapan dari organisasi kemasyarakatan Islam tersebut tidak sama,” ujar Arsad, Selasa (10/2/2026).

‎Ia menjelaskan, terdapat sejumlah pendekatan dalam menentukan awal Ramadan.

Sebagian ormas menggunakan metode hisab (perhitungan astronomi), sebagian menggunakan rukyatul hilal (pengamatan langsung), sementara pendekatan lain mengacu pada konsep Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

‎Arsad mengutip penjelasan astronom BRIN Prof Thomas Djamaluddin terkait istilah hilal global dan hilal lokal.

“Kalau hilal lokal dengan hilal global, sudah pasti berbeda,” katanya.

‎Untuk menyikapi perbedaan tersebut, pemerintah melalui Kementerian Agama menggelar sidang isbat sebagai forum musyawarah.

Dalam sidang itu, seluruh ormas Islam diundang untuk menyampaikan pandangan sebelum pemerintah menetapkan keputusan resmi.

‎“Kita undang seluruh ormas Islam, baik Muhammadiyah, NU, Persis, dan yang lain. Kita dengarkan pandangan mereka, kemudian dimusyawarahkan dan diambil keputusan yang maslahat,” ujarnya.

‎Berdasarkan perhitungan hisab, ijtimak menjelang Ramadan 1447 H terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 19.01 WIB.

Saat Matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia, posisi hilal berada di bawah ufuk, dengan ketinggian antara minus 2 derajat 24 menit 42 detik hingga minus 0 derajat 58 menit 47 detik, serta elongasi 0 derajat 56 menit 23 detik hingga 1 derajat 53 menit 36 detik.

‎Data tersebut belum memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS yang mensyaratkan tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Baca Juga:   Warga dan Pemerintah Desa Diharap Hibahkan Lahan TPU untuk Dikelola Perkimtan PPU

Dengan demikian, secara teoritis hilal belum dapat terlihat berdasarkan parameter tersebut.

‎Sementara itu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu Legi, 18 Februari 2026.

Penetapan itu didasarkan pada hisab hakiki Majelis Tarjih dan Tajdid dengan berpedoman pada prinsip dan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sebagaimana tertuang dalam Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025. (*/)