Diplomasi pecah. Spanyol dan Israel kini resmi tanpa Duta Besar. Tak hanya soal Gaza, Madrid juga terlibat perselisihan terbuka dengan AS soal perang Iran. Mengapa PM Pedro Sanchez pilih ambil risiko besar ini? Baca selengkapnya
TITIKNOL.ID, MADRID – Hubungan diplomatik antara Spanyol dan Israel mencapai titik terendah.
Pemerintahan Perdana Menteri Pedro Sanchez secara resmi memutuskan untuk menarik duta besarnya, Ana Maria Salomon Perez, dari Tel Aviv tanpa batas waktu yang ditentukan.
Langkah berani ini diambil sebagai bentuk protes keras Madrid terhadap operasi militer Israel di Gaza serta keterlibatan Amerika Serikat dalam perang melawan Iran.
Melalui pengumuman resmi pada Rabu 11 Maret 2026, kedutaan besar Spanyol di Tel Aviv kini hanya akan dipimpin oleh seorang charge d’affaires atau kuasa usaha sementara.
Kondisi ini membuat kedua negara praktis tidak lagi memiliki duta besar aktif di masing-masing ibu kota, mengingat Israel telah lebih dulu menarik duta besarnya dari Madrid pada tahun 2024 lalu.
Perdana Menteri Pedro Sanchez dikenal sebagai salah satu pemimpin Eropa yang paling vokal mengkritik kebijakan Israel.
Sejak konflik pecah pada Oktober 2023, pemerintah Spanyol secara konsisten menyebut operasi militer Israel sebagai tindakan genosida.
Ketegangan semakin memuncak setelah Spanyol mengambil serangkaian langkah nyata, di antaranya:
- Mei 2024: Spanyol resmi mengakui kedaulatan negara Palestina.
- Tahun 2025: Madrid melarang keras kapal atau pesawat yang membawa senjata untuk Israel menggunakan pelabuhan maupun wilayah udara Spanyol.
- September 2025: Pemberlakuan sembilan kebijakan tegas terhadap Israel, termasuk embargo senjata total.
Berseberangan dengan Donald Trump soal Iran
Tak hanya dengan Israel, Madrid juga terlibat perselisihan terbuka dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Spanyol menganggap kampanye militer AS-Israel melawan Iran sebagai tindakan ilegal yang melanggar hukum internasional.
Bentuk perlawanan nyata ditunjukkan Sanchez dengan menolak memberikan izin kepada Amerika Serikat untuk menggunakan pangkalan militer bersama di selatan Spanyol sebagai basis operasi serangan ke Iran.
Sikap ini memicu amarah Donald Trump yang menyebut Spanyol sebagai negara “tidak bersahabat” dan mengancam akan memutus hubungan perdagangan kedua negara.
Dalam pidato nasionalnya pada 4 Maret lalu, Pedro Sanchez menegaskan posisi moral negaranya yang menolak segala bentuk kekerasan berskala besar.
“Satu tindakan ilegal tidak bisa dibalas dengan tindakan ilegal lainnya. Dari situlah bencana besar umat manusia bermula,” tegas Sanchez.
Ia mengingatkan dunia untuk belajar dari sejarah agar tidak bermain “rolet Rusia” dengan nasib jutaan orang akibat salah perhitungan teknis maupun politik.
“Spanyol berdiri bersama Piagam PBB dan hukum internasional. Karena itu, kami berdiri bersama perdamaian dan hidup berdampingan secara damai antarnegara,” tutupnya dengan seruan “Tidak untuk perang.”
(*)












