PenajamTitiknolKaltim

Kasus DBD di PPU Terus Menurun, Dinkes Optimistis Tak Tembus 200 Kasus hingga Akhir 2026

3
×

Kasus DBD di PPU Terus Menurun, Dinkes Optimistis Tak Tembus 200 Kasus hingga Akhir 2026

Sebarkan artikel ini

TITIKNOL.ID, PENAJAM – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus menunjukkan tren penurunan sepanjang 2026.

Hingga Juli, Dinas Kesehatan (Dinkes) PPU mencatat sebanyak 100 kasus dan optimistis jumlah tersebut tidak akan melampaui 200 kasus hingga akhir tahun.

Capaian itu jauh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, Dinkes mencatat 348 kasus DBD dengan dua kasus kematian, sedangkan pada 2024 terjadi lonjakan hingga 1.484 kasus.

Fungsional Entomologi Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes PPU, Harjito Ponco Waluyo, mengatakan tren penurunan tersebut merupakan hasil dari penguatan berbagai upaya pengendalian penyakit, terutama di wilayah yang selama ini menjadi daerah endemis.

“Secara umum kasus DBD turun. Mudah-mudahan tahun ini tidak sampai menyentuh 200 kasus,” ujar Ponco, Rabu (22/7/2026).

Berdasarkan data Dinkes, sebaran kasus hingga Juli didominasi Kecamatan Penajam dengan 19 kasus yang berasal dari wilayah kerja Puskesmas Penajam, Petung, dan Sotek.

Kecamatan Babulu mencatat sembilan kasus, Sepaku delapan kasus, sedangkan Waru menjadi wilayah dengan jumlah terendah, yakni dua kasus.

Sementara itu, pasien DBD juga tercatat menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit. RSUD Ratu Aji Putri Botung menangani 32 pasien, disusul RSUD Sepaku sebanyak 27 pasien.

Selain itu, terdapat dua pasien dirawat di Mayapada Hospital dan satu pasien di RS Hermina.

Ponco mengungkapkan, sebanyak 24 dari total kasus yang tercatat merupakan pekerja di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Untuk menekan penyebaran DBD di kawasan tersebut, Dinkes memperkuat langkah pencegahan melalui pelatihan bagi tim keselamatan kerja (safety) dan tenaga medis di setiap segmen proyek, termasuk penyediaan larvasida untuk pengendalian jentik nyamuk.

Baca Juga:   Harga Sewa Penginapan di Penajam Paser Utara Terkerek Naik, Dampak Ibu Kota Nusantara 

“Workshop sudah dilakukan untuk tim safety dan medic di semua segmen pengerjaan di IKN, termasuk penyediaan larvasida,” katanya.

Menurut Ponco, mayoritas penderita DBD tahun ini berasal dari kelompok usia produktif, meski kasus juga masih ditemukan pada anak-anak.

la menjelaskan, musim kemarau turut memengaruhi siklus perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti karena masyarakat tidak lagi banyak menampung air hujan.

Namun, tempat penampungan air bersih yang dibiarkan terbuka tetap berpotensi menjadi lokasi berkembang biaknya jentik nyamuk.

“Kalau beli air lalu tempat penampungannya tidak ditutup, itu juga bisa menjadi sarang jentik,” ujarnya.

la menambahkan, pengalaman lonjakan kasus pada 2024 menunjukkan bahwa kebiasaan menyimpan air di drum maupun wadah terbuka menjadi salah satu faktor utama meningkatnya populasi nyamuk.

Karena itu, masyarakat diimbau rutin menerapkan gerakan 3M Plus, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat penampungan air, agar penyebaran DBD dapat terus ditekan. (TN02)