News google
Balikpapan

Mengambil Makna Karnaval Budaya Nusantara di Balikpapan Kaltim, Gibran Rakabuming Raka Sapa Warga

×

Mengambil Makna Karnaval Budaya Nusantara di Balikpapan Kaltim, Gibran Rakabuming Raka Sapa Warga

Sebarkan artikel ini
KARNAVAL BUDAYA NUSANTARA - Suguhan peserta Karnaval Budaya Nusantara di Balikpapan, Kalimantan Timur pada Rabu (5/6/2024) sore. Masyarakat Kota Balikpapan tumpah ruah, memadati pinggir jalan raya yang ada di daerah Balikpapan Selatan ini, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur.

Kota Balikpapan digadang-gadang menjadi penyangga Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur. Jadikan Kota Balikpapan sebagai kota yang heterogen.

TITIKNOL, BALIKPAPAN – Masyarakat Kota Balikpapan tumpah ruah, memadati pinggir jalan raya yang ada di daerah Balikpapan Selatan, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur pada Rabu 5 Juni 2024. 

Warga antusias ingin melihat barisan peserta pawai Karnaval Budaya Nusantara di Kota Balikpapan. 

Satu di antara warga Graha Indah Balikpapan, Wiwin Santoso, mengaku sejak sore sudah menanti bersama anaknya untuk saksikan pawai budaya, karena event sejenis ini jarang sekali disuguhkan di Kota Balikpapan.

“Lihat di jadwal mau ada karnaval, datang saya sama anak. Mau nonton penasaran seperti apa, ya bagus jadi ramai, ada hiburan berbeda disini,” ujar kepada Titiknol.id. 

Suguhan pawai budaya ini dalam rangka kegiatan Rakernas Apeksi XVII 2024 yang kebetulan Kota Balikpapan jadi tuan rumahnya. 

Tajuk pawai budaya lebih menonjolkan cita rasa budaya Nusantara. Kota Balikpapan digadang-gadang menjadi penyangga Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur. Jadikan Kota Balikpapan sebagai kota yang heterogen, dihuni beragam suku dan budaya, hidup harmonis. 

“Kita bisa lihat sendiri peserta karnaval dari berbagai kota di Indonesia, ternyata banyak sekali yang ikut. Mereka ikut memeriahkan Karnaval Budaya Nusantara di Balikpapan,” tutur Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Balikpapan, Irfan Taufik. 

Pengamatan Titiknol.id, para peserta pawai yang unjuk gigi membuat decak kagum lantaran kostum yang dikenakan unik, jarang sekali orang melihatnya.

Di antaranya ada busana yang tonjolkan pernak-pernik berwarna, bulu-bulu yang nyiur melambai ala Nusantara tentu jadi kesan yang menghibur. 

Barisan perempuan-perempuan menawan menjadikan sore Balikpapan jadi berkesan. Spontan sebagian para pengunjung pawai tidak melewatkan momen dengan mengabadikan Karnawal Budaya Nusantara memakai kamera atau video smartphone. 

Karnawal Budaya Nusantara di Balikpapan dipayungi cuaca yang cerah, tiupan angin yang sepoi-sepoi membuat betah para penonton, tidak beranjak dari lokasi kegiatan pawai budaya. Banyak warga yang bertahan berlama-lama berdiri saksikan perlintasan pawai budaya. 

Baca Juga:   Polri Libatkan155.165 personel  untuk Pengamanan Selama Idul Fitri

Satu di antaranya ada juga momen Gibran Rakabuming Raka, Walikota Solo juga ikut terlibat dalam pawai budaya ini. Kontan saja, masyarakat yang melihat pun langsung melempar sapa ke Gibran Rakabuming Raka. 

“Mas Gibran, haloo mas Gibran,” tutur penonton kepada Gibran Rakabuming Raka yang membalasnya dengan lambaian tangan. 

Mengandung Nilai Positif

Melihat antusiasme warga atas event Karnaval Budaya Nusantara, Ketua APEKSI, Eri Cahyadi, menyatakan, suguhan ragam budaya Nusantara di Balikpapan menjadi makna bahwa adanya keragaman atau perbedaan bisa menjadi pemberi warna yang indah bagi Indonesia. 

Perbedaan yang muncul di Indonesia bisa bersatu menjadi kekuatan yang bisa dibanggakan. 

“Karnaval budaya ini mengingatkan kita bahwa Indonesia terdiri dari berbagai banyak budaya dan kesenian serta adat. Ketika kita berbeda, maka tetap ada satu kekuatan yang besar, yaitu kekeluargaan yang luar biasa,” kata Eri kepada para wartawan. 

Ada nilai positif, ada pelajaran yang bisa diambil dari penyelenggaraan Karnaval Budaya Nusantara di Balikpapan, Kalimantan Timur ini. Kegiatannya bermanfaat bagi seluruh masyarakat Indonesia. 

“Kita disatukan pada karnaval ini. Tujuan kita adalah memberikan yang terbaik bagi warga kota di negara tercinta ini,” ujar Eri Cahyadi, yang lahir pada 27 Mei 1977 di Surabaya ini. (*)