Mendatang, telah ada Ibu Kota Nusantara. Ini bisa jadi peluang untuk menangkap pasar, sebagai pemasok kebutuhan pangan di Samarinda dan Ibu Kota Nusantara
TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan Kota Samarinda, Adung Karyo Sedio Utomo membeberkan, dunia pertanian di Kota Samarinda, Kalimantan Timur menemui 3 kendala yang bisa menghambat kemajuan pertanian di Samarinda.
Adung Karyo menguraikan tiga kendala yang dimaksud, Rabu (26/6/2024) di Samarinda, Kalimantan Timur.
Pertama, di Kota Samarinda untuk lahan pertanian sudah mulai berkurang. Belakangan ini lahan pertanian di Samarinda semakin sempit.
Kendala kedua, kata Adung, ialah pengairan untuk lahan pertanian sulit diperoleh. Sistem irigasi yang tersedia di Kota Samarinda masih belum maksimal.
Para petani kadang kesulitan untuk melakukan pengairan pertanian yang membuat hasil panen tidak memuaskan.
Ketiga adalah kendala sumber daya manusia yang jarang menggemari dunia pertanian. Sekarang sudah sekali mencari seseorang yang ingin menekuni dunia pertanian. Minat terhadap dunia pertanian, terutama di generasi muda sangatlah langka.
Kurangnya sumber daya manusia di bidang pertanian tentu saja berpengaruh terhadap faktor bertumbuh kembangnya dunia tani di Samarinda.
“Ini tantangan, kita. Juga di tingkat nasional. Ya sekarang kan mulai itu dibuat petani milenial untuk gaet anak muda terjun ke dunia pertanian,” ujar Adung.
Dia pun sangat berharap, peran serta Pemerintah Kota Samarinda terutama dalam hal penyediaan teknologi untuk kegiatan pertanian.
“Kasih sentuhan-sentuhan teknologi yang baru dan terbarukan, jadi seorang petani itu tidak terkesan lusuh,” tutur Adung.
Mendatang, telah ada Ibu Kota Nusantara. Ini bisa jadi peluang untuk menangkap pasar, sebagai pemasok kebutuhan pangan di Samarinda dan Ibu Kota Nusantara.
Selama ini, kata Adung, hasil pertanian di Kota Samarinda sangat bergantung pada daerah luar. Pasokan hasil pertanian mengandalkan dari luar Kota Samarinda.
Saatnya untuk tangkap peluang, manfaatkan pertanian sebagai roda ekonomi baru di Samarinda.
“Kami berharap bahwa pertanian ini tidak menjadi pilihan terakhir tapi menjadi pilihan utama bagi masyarakat untuk menggantungkan kehidupan. Bukan karena tidak ada pilihan, tapi memang karena pilihan utama,” kata Adung. (*)










