Samarinda

Keluh Kesah Emak-emak Atas Dugaan Pungli di Sekolah Negeri Samarinda, Pemkot Bentuk Tim Khusus

390
×

Keluh Kesah Emak-emak Atas Dugaan Pungli di Sekolah Negeri Samarinda, Pemkot Bentuk Tim Khusus

Sebarkan artikel ini
PROTES KEBIJAKAN SEKOLAH - Unjuk rasa protes penjualan buku pelajaran sekolah negeri yang dianggap membebankan orangtua murid. Sekolah negeri tingkat SD dan SMP di Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur disorot para emak-emak lantaran adanya dugaan pungutan liar atau pungli, Kamis (1/8/2024). 

TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Sekolah negeri tingkat SD dan SMP di Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur disorot para emak-emak lantaran adanya dugaan pungutan liar atau pungli, Kamis (1/8/2024). 

Mereka pengunjuk rasa membuat aksi protes dengan pola pendidikan di Kota Samarinda.

Kegiatan unjuk rasa dilakukan di depan gedung Walikota Samarinda, Jalan Kesuma Bangsa, Kecamatan Samarinda Kota, Kota Samarinda. 

Pengeras suara dibawa, aspirasi emak-emak tersampaikan secara lantang. Mengenakan busana daster jadi kesan kontras yang unik dalam agenda unjuk rasa. 

Terpal dibawa pengunjuk rasa, dipasang di depan pintu masuk gedung Walikota Samarinda. Difungsikan untuk sarana menaruh buku-buku dan alas duduk, tempat istirahat yang bersih. 

Isu yang dilontarkan para pengunjuk rasa secara konkrit yakni dugaan penjualan buku paket sekolah yang mahal, penerapan tugas pekerjaan rumah yang dianggap membebani murid dan orangtua. 

Sebagai aksi simbolik, di antara pengunjuk rasa ada yang membawa buku paket sekolah edisi lama.

Tujuan dari membawa buku-buku ini untuk disumbangkan kepada Pemerintah Kota Samarinda, sebagai kritikan adanya praktek penjualan buku paket di sekolah yang harganya kadang sangat memberatkan. 

Nina Iskandar, Koordinator Aksi, menyatakan, gerakan ini murni inisatif dari orangtua murid yang memang resah dengan praktik pendidikan di Kota amarinda. 

Pihaknya akui memiliki bukti dan data dugaan pungutan liar sekolah-sekolah negeri di Samarinda. Ada oknum yang leluasa bergerak melakukan pungutan liar secara terstruktur, sistematis, dan masif.

“Kami ingin kepala sekolah dan tenaga pendidik yang terlibat dipecat. Kami juga sudah sebarkan edaran dari Kadisdik, tapi hal tersebut diabaikan. Untuk pemerintah jangan takut kehilangan tenaga pendidik. Sebab, kami yakin masih banyak tenaga pendidik yang profesional, segar, dan lebih baik,” kata Nina.

Baca Juga:   3 Kelurahan di Samarinda Kaltim Dapat Daging Kurban dari Presiden Jokowi, Penerimanya Ada Syarat

Pemkot Membentuk Tim Khusus

Sebagai respons atas aksi unjuk rasa emak-emak, mewakili Pemkot Samarinda, Asisten I Pemkot Samarinda, Ridwan Tasa temui para pengunjuk rasa. 

Pihaknya akan menampung aspirasi pengunjuk rasa dan mendalami laporan-laporan yang disampaikan secara serius. 

“Saya juga berasal dari keluarga miskin. Saya dulu harus sekolah gratis karena orangtua saya tidak mampu. Saya paham betul perasaan ibu-ibu sekalian, saya minta maaf,” ujar Ridwan. 

Dia pun menyatakan, telah melakukan rapat ulang soal isu ini dan membuat tim khusus dengan tujuan bisa mengurai benang kusut problematika pendidikan di Kota Samarinda. 

“Tentu perkara ini tidak akan terungkap apabila ibu-ibu ini tidak datang. Jadi informasi mereka sangatlah penting dan kami sudah bentuk tim untuk itu,” tegasnya. (*)