Samarinda

Reaksi Sejarawan Lokal soal Revitalisasi Pecinan Samarinda, Pemkot Ingin Dongkrak Wisata

444
×

Reaksi Sejarawan Lokal soal Revitalisasi Pecinan Samarinda, Pemkot Ingin Dongkrak Wisata

Sebarkan artikel ini
REVITALISASI PECINAN SAMARINDA - Perbincangan manfaat dari revitalisasi pecinan Samarinda di kegiatan talkshow bertajuk “Kota Samarinda dan Budaya Tionghoa” di Atrium Samarinda Central Plaza, di Jalan Mulawarman, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, Sabtu (24/8/2024). (HO/Aman)

Sebab sejak dahulu kala, ada sejarahnya, keberadaan pecinan di Samarinda sudah lama berdiri, tinggal sekarang dibuat lagi revitalisasinya

TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Rencana pengerjaan kampung pecinan tionghoa di Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur harus dilihat sebagai hal yang positif dalam rangka memajukan pariwisata ibu kota Kalimantan Timur. 

Dan imbas dari pengadaan kampung pecinan di Samarinda akan memberikan daya dongkrak pendapatan asli daerah bagi Kota Samarinda. 

Demikian dipaparkan oleh Muhammad Cecep Herly dari Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Samarinda dalam kegiatan talkshow bertajuk “Kota Samarinda dan Budaya Tionghoa” di Atrium Samarinda Central Plaza, di Jalan Mulawarman, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, Sabtu (24/8/2024) 

Dia katakan, ada rencana Pemkot Samarinda melakukan revitalisasi pecinan dan bila memang nanti terwujud tentu saja harus ada benefit bagi Kota Samarinda.

“Pecinan Samarinda itu nantinya harus menjadi destinasi wisata baru. Revitalisasi ini harus menghasilkan pendapatan daerah. Orang tidak sekadar berkunjung, tapi juga berbelanja di pecinan,” beber Cecep Herly.

Sejak Lama Telah Ada

Sama halnya diutarakan, Muhammad Sarip, pegiat sejarawan lokal, merasa setuju dengan kegiatan revitalisasi pecinan di Kota Samarinda.

Sebab sejak dahulu kala, ada sejarahnya, keberadaan pecinan di Samarinda sudah lama berdiri, tinggal sekarang dibuat lagi revitalisasinya agar menarik bagi masyarakat secara keseluruhan. 

“Saya melihat langkah pemkot merevitalisasi pecinan Samarinda tidak dimaksudkan untuk mengistimewakan satu etnik tertentu, malahan pemkot itu membangun keberagaman etnis di Samarinda, tidak mengarah ke politik identitas tertentu,” ujarnya. 

Menurut Muhammad Sarip, kala membangun Kota Samarinda, pondasinya berasal dari masyarakat lintas etnis, lintas agama. Kota Samarinda tidak didirikan oleh satu kelompok tertentu namun nafasnya dari ide kolektif.

Baca Juga:   Pesan Sekda Sri Wahyuni untuk Liga OPD Kaltim, Olaharga Bisa Hasilkan Hormon Endorfin

“Termasuk di dalamnya ada entitas Tionghoa. Kita menghormati keberagaman di Samarinda, bukan penyeragaman,” katanya. 

Tercatat, ada data sensus penduduk Samarinda di era tahun 1930, kala itu orang-orang Tionghoa sudah banyak yang tinggal di Samarinda. Secara jumlah penduduk, masuk urutan kedua terbanyak setelah Banjar. 

“Penduduk Tionghoa itu dulunya bukan minoritas di Samarinda. Komunitas Tionghoa juga punya peran dalam membangun Kota Samarinda,” tegas Muhammad Sarip. (*)