Setiap kali ada tamu dari luar, terutama yang datang dari jauh seperti Jakarta, keluarganya selalu siap menyambut dengan gelang yang sudah dirangkai.
TITIKNOL.ID, UJOH BILANG – Bagi masyarakat Mahakam Ulu di Provinsi Kalimantan Timur mengenakan gelang memiliki makna, ada pesan nilai budaya yang dikandung.
Setiap orang luar datang ke Mahakam Ulu biasanya diselingi dengan pemberian berupa gelang. Ini gelang bernama Lekuq.
Benda bernama gelang Lekuq tersebut bukan sekadar aksesoris, melainkan simbol kebudayaan yang penuh makna bagi masyarakat di Mahakam Ulu, Kalimantan Timur.
Dijelaskan oleh masyarakat adat Dayak, Leonder Awang Ajat, bahwa bagi mereka yang masih menghormati kearifan lokal, tradisi ini tetap hidup.
“Kalau orang yang masih memperhatikan kearifan lokal, masih memperhatikan aspek-aspek sosial dalam hubungan, pasti dia masih menyediakan,” katanya yang dikutip Titiknol.id pada Rabu (2/9/2024).
Baginya, gelang Lekuq menjadi simbol keramahan dan penghormatan terhadap tamu.
Setiap kali ada tamu dari luar, terutama yang datang dari jauh seperti Jakarta, keluarganya selalu siap menyambut dengan gelang yang sudah dirangkai.
“Paling tidak, ketika kedatangan orang baru, dia pasti buru-buru cari atau buru-buru beli atau buru-buru bikin,” bebernya.
Bahkan, keluarganya menyimpan pasokan gelang Lekuq untuk menghadapi kunjungan tamu yang mendadak.
“Karena kami keseringan, saya bilang sama mamanya, kita sering betul datangin orang jauh, ya kita stok aja. Kadang kita beli di Kota Samarinda maniknya, terus dirangkai di waktu senggang,” ungkapnya.
Pemaknaan Gelang Lekuq
Menurut masyarakat adat Dayak, Leonder Awang Ajat bahwa proses pembuatan gelang Lekuq dilakukan dengan penuh ketelitian, namun tetap santai.
Ia mengakui bahwa mereka tidak selalu menghitung jumlah pasti manik yang dirangkai, tapi lebih fokus pada ukuran tangan yang berbeda-beda.
“Enggak dihitung, jadi kami bikin itu banyak, kami dua bikin itu all size saja,” sebutnya.
Menurutnya, ukuran tangan tamu bisa bervariasi, dari yang kecil hingga besar.
“Kadang orang datang dengan anak kecil, kita pasangin juga. Saya terima juga ada yang tangannya besar, kadang badannya besar, tangannya besar juga,” tuturnya.
Salah satu elemen penting dalam gelang Lekuq adalah manik yang disebut kelam, manik utama yang diletakkan di tengah gelang.
“Kelam itu yang tengah, yang bergaris, itu yang intinya. Lain itu pemanis saja,” jelasnya.
Manik utama ini dianggap sebagai pusat dari seluruh rangkaian, sementara manik-manik lainnya hanya berfungsi sebagai aksesoris tambahan.
Namun, ada aturan yang sangat penting soal pemilihan warna manik.
“Masalah warna itu variasi aja, asal jangan membuat warna merah,” imbuhnya.
Warna merah dalam gelang Dayak memiliki makna yang sangat spesifik, dan hanya digunakan dalam upacara kematian.
Ia bercerita bahwa beberapa orang yang tidak memahami adat sering kali memilih manik merah hanya karena tampilannya yang mencolok.
“Kalau kami pasang warna merah dan orang tahu lihat itu, dia pasti mempertanyakan kok kamu dikasih yang warna merah, karena itu untuk kematian, dipasang pada acara-acara kematian,” tambahnya.
Meski sebagian orang sudah tidak paham lagi filosofi di balik warna dan manik, mereka yang masih menghormati tradisi akan mempertanyakan kehadiran warna merah dalam gelang.
“Orang yang mengerti loh ya. Tapi secara umum banyak yang sudah tidak mengerti, tapi ketika itu orang-orang adat yang lihat atau orang yang memahami adat pasti akan mempertanyakan,” tegasnya.
Bagi mereka yang mengerti adat, makna di balik setiap detail dalam gelang sangatlah penting dan tidak bisa diabaikan.
Kata dia, gelang Lekuq di Mahakam Ulu bukan sekadar hiasan, tetapi simbol kehidupan dan filosofi adat yang kaya.
“Ketika kita dipasangkan begini kan jadi bisa bercerita lebih banyak, jadi tahu kita filosofinya apa,” ucapnya.
Tradisi ini, meskipun terancam oleh modernisasi, masih menjadi jembatan penting yang menghubungkan generasi muda dengan warisan leluhur mereka. (*)












