Samarinda

Sepak Terjang Perempuan Kaltim dalam Ketahanan Pangan, Atur Kebutuhan Gizi 

715
×

Sepak Terjang Perempuan Kaltim dalam Ketahanan Pangan, Atur Kebutuhan Gizi 

Sebarkan artikel ini
PETANI DI KALTIM - Sepak terjang perempuan Kalimantan Timur punya andil dalam hal ketahanan pangan di Provinsi Kalimantan Timur. (Titiknol.id)

Dalam skala nasional, peran perempuan dalam mencapai swasembada pangan di berbagai aspek pertanian dan pengolahan makanan

TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Sepak terjang perempuan Kalimantan Timur punya andil dalam hal ketahanan pangan di Provinsi Kalimantan Timur. 

Hal itu dibuktikan dengan data dari Dinas Pangan, Ketahanan Pangan dan Holtikultura (DPTPH) Kaltim yang menyebutkan 70 persen tenaga kerja di sektor pertanian Kalimantan Timur didominasi oleh perempuan. 

Demikian dibeberkan oleh Kepala DPTPH Kaltim, Siti Farisyah Yana pada Senin (23/12/2024) sore

Bahkan dalam skala nasional, peran perempuan dalam mencapai swasembada pangan di berbagai aspek pertanian dan pengolahan makanan mencapai 24 persen.

DPTPH Kaltim merinci, jumlah rumah tangga petani menurut jenis kelamin per 2023 mencapai 205.927 petani dengan rincian 17.066 perempuan dan 198.826 laki-laki.

Kepala DPTPH Kaltim, Siti Farisyah Yana mengatakan bahwa swasembada pangan merupakan program strategis yang diunggulkan Presiden RI Prabowo Subianto dalam lima tahun ke depan.

Menurut Yana, sapaan akrabnya, terciptanya swasembada pangan dibutuhkan peran besama tidak hanya pemerintah namun juga dibutuhkan peran individu. Khususnya petani-petani perempuan.

“Perempuan mengelola 70 persen tenaga kerja sektor pertanian dan menghasilkan 80 persen produk makanan pokok,” katanya.

Mengatur Kebutuhan Gizi Pangan

Ditambahkan, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Usaha Kecil Menengah Kaltim, Heni Purwaningsih di Hotel Mercure Samarinda.

“Jadi di momentum peringatan ke 96 Hari Ibu Nasional ini kita patut mengapresiasi peran perempuan dalam ketahanan pangan Kaltim, bahkan skala nasional,” ujarnya. 

Selain itu, perempuan juga memiliki peran penting dalam rumah tangga untuk mengatur kebutuhan gizi pangan yang dibutuhkan keluarga.

“Kesalahan dalam pengelolaan makanan dalam mengurangi kualitas gizi, yang akhirnya mempengaruhi ketahanan pangan rumah tangga,” kata Heni.

Baca Juga:   Penurunan Tarif Angkutan Udara Berkontribusi pada Deflasi di Kaltim versi Bank Indonesia 

Masih disampaikan Yana, saat ini jumlah produksi pangan di Kaltim masih belum mampu memenuhi kebutuhan permintaan pangan penduduk Benua Etam.

Hal ini dikarenakan produksi pangan di Kaltim sering menghadapi gagal panen akibat faktor cuaca dan lingkungan.

“Sehingga saat ini kebutuhan pangan di Kaltim masih di datangkan dari luar daerah. Seperti beras masih didatangkan dari Jawa dan Sulawesi,” ujar Heni.

“Hal itu menjadi tantangan. Dan peran perempuan juga berkontribusi untuk mengurangi pemborosan makanan,” kata Heni. (*)