Mahulu

PGRI Khawatir, Pelajar Mahulu Pergi ke Sekolah Selalu Seberangi Sungai dan Jalan Rusak

292
×

PGRI Khawatir, Pelajar Mahulu Pergi ke Sekolah Selalu Seberangi Sungai dan Jalan Rusak

Sebarkan artikel ini
MUDIK NATARU 2026 - Ilustrasi pelajar pergi dan pulang ke sekolah andalkan transportasi air, susuri perairan sungai. Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Kalimantan Timur memperketat pengawasan terhadap armada kapal yang melayani rute menyusuri Sungai Mahakam rute ke Kutai Barat dan Mahakam Ulu. (Meta Ai)

TITIKNOL.ID, UJOH BILANG – PGRI Mahakam UIu merasa khawatir terhadap anak didik sekolah di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur karena tidak ditunjang dengan fasilitas transportasi yang memadai. 

Hal ini dibeberkan oleh Margaretha Ulan, Ketua PGRI Mahakam Ulu yang dikutip oleh Titiknol.id pada Senin (24/2/2025). 

Dia paparkan, banyak siswa yang berasal dari daerah terpencil harus menyeberangi sungai atau melewati jalan yang belum layak untuk perjalanan jauh.  

Ada yang dari seberang Batu Majang menyeberangi sungai, ada yang dari Long Melaham dengan jarak tempuh jauh dan jalanan yang masih kurang rata.

“Kurang bagus untuk anak-anak, sukar sekali untuk ditempuh,” ungkapnya.  

Untuk itu, ia berharap pemerintah daerah segera memfasilitasi pengadaan kendaraan angkutan umum bagi pelajar, seperti mobil atau bus sekolah yang dapat mengangkut banyak siswa sekaligus.  

“Yang sering kami sampaikan terkait kendaraan atau transportasi itu, kami meminta bantuan dari pemerintah kabupaten untuk membantu memfasilitasi,” katanya.  

Ia mendesak pemerintah daerah untuk menyediakan transportasi khusus bagi siswa dan guru yang menghadapi kesulitan akses menuju sekolah. 

Kondisi geografis Mahulu yang menantang, terutama saat musim hujan, seringkali membuat anak-anak terlambat atau bahkan tidak bisa berangkat ke sekolah.  

“Apalagi terlihat kondisi geografis kita di Mahulu ini sangat kurang bagus jalanannya, apalagi pada saat musim hujan itu licin dan juga berlubang,” imbuhnya. 

Menurutnya, banyak siswa yang terhambat ke sekolah akibat kondisi alam, terutama mereka yang berasal dari daerah terpencil seperti Batu Majang dan seberang sungai.  

“Banyak sekali kendaraan anak-anak kalau sudah hujan itu pasti antara terlambat atau tidak turun sama sekali,” katanya.  

Salah satu kendala terbesar adalah akses bagi siswa yang harus menyeberang sungai menggunakan ferry, yang kerap terhambat oleh cuaca buruk dan pasang surut air.  

Baca Juga:   Tingkat Kunjungan ke Posyandu Samarinda Rendah, Stunting di Ibukota Kaltim Masih Jauh dari Nasional

“Karena kondisi alam, contohnya dari anak-anak kami yang dari Batu Majang, dari seberang itu, kalau mau ke Long Bagun atau ke Ujoh Bilang, itu mereka menunggu ferry penjemputan itu entah-entah bisa datang,” ucapnya.  

Ia menegaskan bahwa penyediaan transportasi khusus bagi siswa dan guru bukan sekadar usulan baru. 

Pihaknya telah mengajukan permohonan ini dalam berbagai kesempatan sebelumnya, namun hingga kini belum ada tindak lanjut dari pemerintah daerah.  

“Sudah pernah kami usulkan juga di tahun-tahun sebelumnya, tapi memang belum ada realisasinya,” ungkapnya.  

Oleh karena itu, PGRI Mahulu kembali meminta perhatian pemerintah agar segera mengambil langkah konkret dalam penyediaan transportasi sekolah, yang diyakini dapat membantu siswa dan guru dalam menjalankan aktivitas pendidikan dengan lebih lancar dan aman.  

“Kita kembali meminta perhatian pemerintah lagi untuk bisa membantu hal tersebut. Pertamanya memang ke transportasi anak sekolah,” tegasnya. (*)