TITIKNOL.ID, TUUK – Greenland, sebuah wilayah dingin, sebagian besar permukaannya berlapis es. Dahulu kala, zaman purba, Greenland memiliki lapisan daratan yang hijau ditumbuhi banyak pohon, tetapi seiring berjalannya waktu, karena perubahan iklim, Greenland dilapisi banyak es.
Greenland, memiliki ibukota bernama Nuuk. Greenland kini jadi pusat perbincangan lantaran akan dibeli oleh Amerika Serikat, era Presiden Donald Trump.
Saat ini Greenland merupakan daerah otonomi khusus dari negara Denmark. Greenland memiliki luas total 2,16 juta kilometer persegi atau 836.330 mil persegi dengan kondisi tiga per empat Greenland, ditutupi oleh satu-satunya lempeng es abadi.
Sejarahnya, catatan di awal abad ke-18, Denmark dan Norwegia sama-sama akui Greenland sebagai daerah kedaulatan. Seiringnya waktu, kerajaan Norwegia mengalami gonjang-ganjing yang kemudian berujung penguasaan Greenland akhirnya berada dalam pelukan sepenuhnya negara Denmark di tahun 1814.
Kemudian masuk tahun 1953, Greenland ditetapkan sebagai wilayah integral Denmark oleh Konstitusi Denmark pada tahun 1953.
Saat ini memasuki tahun 2025, Greenland diincar Amerika Serikat. Presiden Donald Trump kepincut untuk memiliki Greenland.
Kemudian apa alasan mendasar Presiden Donald Trump ingin memiliki Greenland?
Dikutip dari kantor berita Agence France-Presse pada Kamis 9 Januari 2025, terungkap tiga alasan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ingin membeli Greenland ini.
1. Bangun Pangkalan untuk Keamanan
Pada Desember 2024, Trump menyebutkan bahwa mengendalikan Greenland adalah kebutuhan mutlak untuk keamanan nasional. Pernyataan ini mencerminkan pentingnya Greenland dalam geopolitik. Amerika Serikat ngebet punya pangkalan militer di Greenland.
2. Mengincar Sumber Mineral
Greenland dikenal memiliki potensi sumber daya mineral besar, yang menjadi daya tarik bagi Amerika Serikat.
Para ahli menyoroti bahwa akses ke sumber daya mineral Greenland sangat penting. Potensi Greenland inilah yang bisa membawa kejayaan bagi Amerika Serikat masa sekarang dan mendatang.
3. Persaingan Geostrategis di Arktik
Dalam konteks meningkatnya persaingan antara AS, China, dan Rusia, Greenland menjadi pusat perhatian sebagai wilayah strategis.
Presiden Donald Trump ingin membeli Greenland tak hanya berkaitan dengan perluasan wilayah Amerika Serikat, tetapi juga mengamankan kepentingan strategis dan ekonominya di kawasan Arktik. Kayak serupa bisnis jalur perlintasan sebagaimana seperti Terusan Panama gituh loh.
Tanggapan Warga Greenland
Andai saja Presiden Amerika Serikat, Donald Trump sukses rebut Greenland, bisa membeli, maka ke depan nama Greenland akan diganti jadi Red, White, and Blueland.
Apa benar, warga Greenland rela bergabung dalam bagian Amerika Serikat.
Greendland sebaliknya muncul wacana akan melepaskan diri otonomi dari negara Denmark. Kabarnya Greenland mau jadi negara independen yang merdeka meski ini masih dalam tahap proses.
Pada 4 Januari 2025, Perdana Menteri Greenland, Mute Bourup Egede menyatakan kesiapan negaranya untuk merdeka dari Denmark. Mereka siap menjadi negara independen.
Selain itu, kabar sebelumnya, sebagai respons, banyak warga yang tolak Greenland dibeli oleh Amerika Serikat.
Pada 12 Februari 2025, bahkan muncul petisi satir, sebagai aksi balasan warga Denmark, California akan dibeli untuk gabung ke Greenland. Aksi ini sebagai bentuk penolakan Greenland dibeli oleh Amerika Serikat.
Dalam wawancara dengan TV Denmark, Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen menolak permintaan Trump untuk mengakuasisi pulau tersebut.
Kata Perdana Menteri Denmark, Greenland adalah wilayah otonom yang berada di bawah Kerajaan Denmark, dan hanya rakyat Greenland yang berhak menentukan masa depannya.
“Greenland adalah milik orang-orang Greenland. Dan Greenland tidak untuk dijual,” tegas Mette Frederiksen. (*)












