DPRD Samarinda

Dewan Desak Proyek Anti Banjir Samarinda Senilai Rp700 M Dibiayai Pusat

192
×

Dewan Desak Proyek Anti Banjir Samarinda Senilai Rp700 M Dibiayai Pusat

Sebarkan artikel ini

TITIKNOL.ID – Warga Samarinda boleh sedikit bernapas lega. Pemerintah Kota (Pemkot) dan DPRD Samarinda sedang ngebut menyiapkan solusi jangka panjang untuk mengatasi banjir yang terus-menerus melanda. Salah satu jurus andalan yang kini didorong adalah normalisasi Sungai Mahakam dan Sungai Karang Mumus, plus pembangunan pintu air raksasa sebagai pengendali banjir permanen!

Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Yusrul Hana mengakui bahwa frekuensi banjir yang belakangan ini makin tinggi jadi sinyal penting. Perlu penanganan yang sistematis, terukur, dan berkelanjutan.

Dalam rapat dengar pendapat antara DPRD dan Pemkot Samarinda yang digelar Sabtu (7/6/2025), fokus utama pembahasan adalah rencana pembangunan pintu air di kawasan Sungai Karang Mumus.

“Memang ada dorongan kuat untuk melakukan normalisasi Sungai Karang Mumus dan Sungai Mahakam. Dalam agenda hari ini, DPRD mengetahui bahwa Pemkot Samarinda telah menyusun rencana jangka panjang untuk mengusulkan pembangunan pintu air,” jelas Yusrul.

Proyek pintu air ini bukan main-main, estimasi biayanya diproyeksikan mencapai angka yang fantastis, berkisar antara Rp600 hingga Rp700 miliar. Mengingat besarnya dana yang dibutuhkan, Pemkot Samarinda jelas tak bisa sepenuhnya mengandalkan APBD daerah.

Maka dari itu, Pemkot sudah melayangkan permohonan dukungan pembiayaan kepada pemerintah pusat, khususnya melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

“Usulan ini diarahkan ke pemerintah pusat, bukan didanai oleh daerah,” tegas Yusrul.

Yang menarik, Yusrul membocorkan bahwa usulan pintu air yang akan dibangun ini mengadopsi model yang sudah terbukti berhasil di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) Jakarta.

Sistem ini dirancang canggih: pintu air akan otomatis mencegah air Sungai Mahakam masuk ke wilayah daratan saat kondisi pasang. Namun, di saat yang sama, sistem ini tidak akan mengganggu aliran air dari daratan yang perlu dialirkan keluar.

Baca Juga:   Abdul Rofik: Peningkatan PAD Perlu Dimulai dari Penguatan UMKM

“Prinsip inilah yang ingin diterapkan di Samarinda, agar banjir akibat intrusi air Sungai Mahakam bisa dicegah, sementara air hujan tetap dapat dialirkan keluar kota,” tutup Yusrul, penuh optimisme. (*/adv)