TITIKNOL.ID, TENGGARONG – Komitmen terhadap pelestarian lingkungan bukan sekadar wacana bagi BBE Group, gabungan PT Bukit Baiduri Energi dan PT Khotai Makmur Insan Abadi.
Lewat aksi nyata bertajuk penanaman 2025 bibit pohon, perusahaan tambang batu bara ini menunjukkan tanggung jawab ekologisnya di wilayah reklamasi Pit Pinang, yang berada di perbatasan antara Kutai Kartanegara dan Samarinda, Kalimantan Timur, Jumat (13/6/2025).
Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025 yang mengangkat tema “Hentikan Sampah Plastik.”
Tema ini menjadi pengingat bahwa krisis lingkungan telah menjadi persoalan mendesak dan harus dihadapi dengan langkah konkret di seluruh sektor, termasuk pertambangan.
General Manager Operation BBE Group, Reno Barus, menyampaikan bahwa aksi penanaman ini merupakan bagian dari agenda tahunan perusahaan.
Namun, di tahun ini, BBE memberi makna khusus dengan menyesuaikan jumlah pohon yang ditanam dengan angka tahun, 2025 pohon.
“Ini bukan hanya karena angkanya sesuai dengan tahun 2025, tapi sebagai pengingat bahwa setiap tahun harus ada peningkatan komitmen terhadap lingkungan. Bukan hanya rutinitas, tapi bagian dari misi berkelanjutan,” ujar Reno.
Ia menuturkan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi tekanan lingkungan yang makin kompleks.
Perubahan iklim ekstrem, polusi udara dan air, hingga krisis sampah plastik telah menjelma menjadi ancaman global yang tak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan sektoral.
“Ini bukan lagi isu lokal atau regional. Ini darurat global. Maka setiap sektor, termasuk industri tambang, harus menjadi bagian dari solusi,” tegasnya.
Menurut Reno, BBE Group meyakini bahwa proses reklamasi bukan hanya soal kewajiban administratif semata, tetapi bentuk tanggung jawab moral untuk mengembalikan fungsi ekologis lahan bekas tambang.
Oleh karena itu, pemilihan bibit tidak dilakukan sembarangan.
Selain pohon sengon yang berfungsi sebagai tanaman penutup lahan, perusahaan juga menanam jenis-jenis tanaman endemik dan bernilai konservasi seperti ulin, meranti, kapur, gaharu, laban, dan pulai.
Tak ketinggalan, pohon buah lokal seperti lai, durian, dan cempedak turut ditanam sebagai wujud pemulihan keanekaragaman hayati di area tersebut.
“Ada pendekatan ekologis dan sosial yang kami rangkai. Bukan hanya tutupan lahan, tapi juga manfaat jangka panjang yang bisa dirasakan masyarakat sekitar,” tambahnya.
Seluruh kegiatan ini dilakukan sesuai dengan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) serta rencana reklamasi dan pascatambang yang telah disetujui oleh instansi terkait.
Reno menyebut bahwa reklamasi tidak hanya dilakukan melalui penanaman pohon, tapi juga dengan pengembangan budidaya perikanan, pertanian, dan pembangunan kolam atau reservoir air di eks lahan tambang.
“Ke depan kami akan mengembangkan lebih banyak model reklamasi terpadu, agar lahan bekas tambang tetap produktif dan aman untuk lingkungan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi dalam kampanye pengurangan sampah plastik, sejalan dengan tema besar Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2025 yaitu “Hentikan Polusi Plastik”.
“Setiap kegiatan kami kini diarahkan untuk meminimalkan penggunaan plastik. Bahkan dalam pelaksanaan penanaman pohon ini pun kami menghindari plastik sekali pakai. Kita mulai dari hal kecil, tapi konsisten,” tutur Reno.
Sebagai penutup, Reno berharap aksi ini tidak hanya berdampak secara fisik terhadap landscape tambang, tetapi juga membentuk kesadaran kolektif bahwa sektor industri bisa menjadi garda depan dalam menjaga bumi.
“Kami di BBE Group percaya bahwa menjaga alam adalah investasi jangka panjang, bukan beban. Karena masa depan anak cucu kita bergantung pada apa yang kita tanam hari ini,” pungkasnya. (*)












