TITIKNOL.ID, PENAJAM – Kasus malaria di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengalami penurunan signifikan.
Dinas Kesehatan PPU mencatat hingga Agustus 2025 hanya ditemukan 117 kasus, jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 500 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan PPU, Temu Budiarti, menyebut Kelurahan Sotek, Kecamatan Penajam masih menjadi wilayah endemik malaria.
Kondisi itu dipicu oleh aktivitas perambah hutan di sekitar kawasan tersebut.
“Para perambah itu sebenarnya bukan warga PPU, melainkan pendatang. Sebagian berasal dari Kalimantan Selatan dan Sulawesi,” ungkap Temu, Minggu (7/9/2025).
Ia menjelaskan, para perambah hutan biasanya berobat di Puskesmas Sotek, sehingga data kasus malaria tercatat sebagai bagian dari wilayah PPU.
Namun, pihak provinsi maupun Kementerian Kesehatan sudah memahami bahwa sebagian besar kasus tersebut berasal dari luar daerah.
“Nama, NIK, hingga alamat sesuai KTP menunjukkan mereka bukan penduduk PPU,” tambahnya.
Temu menerangkan, kasus malaria hanya ditemukan di Kecamatan Penajam dan Sepaku, sementara dua kecamatan lainnya, Babulu dan Waru, dinyatakan nihil.
Untuk upaya pengendalian, Dinas Kesehatan membagikan 64 ribu kelambu bantuan dari Kementerian Kesehatan ke masyarakat, khususnya di wilayah dengan kasus terbanyak.
“Karena banyak ditemukan di Sotek, distribusi kami fokuskan ke sana,” jelasnya.
Selain itu, fogging juga dilakukan namun hanya ketika diperlukan. Kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) di PPU turut menarik perhatian peneliti untuk melakukan riset terkait kesehatan lingkungan.
“Sejak ada IKN, banyak peneliti datang meneliti masalah nyamuk, tikus, lalat, termasuk DBD,” tutupnya.
(TN01)












