Politik

Netanyahu Klaim Pengakuan Palestina oleh Barat Adalah Penghargaan untuk Terorisme

174
×

Netanyahu Klaim Pengakuan Palestina oleh Barat Adalah Penghargaan untuk Terorisme

Sebarkan artikel ini
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dalam pidatonya di hadapan Sidang Umum PBB. (YouTube @unitednation)

TITIKNOL.ID, NEW YORK – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, melontarkan kritik keras kepada Sir Keir Starmer dan sejumlah pemimpin dunia lain yang telah menyatakan pengakuan terhadap negara Palestina.

Dalam pidatonya di hadapan Sidang Umum PBB, Netanyahu menyatakan: “Israel tidak akan membiarkan Anda memaksakan negara teroris kepada kami.”

Dalam pidatonya yang tegas, Netanyahu menyebut bahwa Israel harus “menyelesaikan tugas” menghadapi Hamas di Gaza.

Ia mengecam para pemimpin dunia yang menurutnya lebih memilih mengakui kelompok pelaku kekerasan daripada mengutuk tindakan mereka.

“Saya mengecam para pemimpin yang bukannya mengutuk para pembunuh, pemerkosa, dan pembakar anak-anak, malah ingin memberi mereka negara di jantung Israel,” kata Netanyahu dalam serangannya kepada para pemimpin dunia, termasuk Perdana Menteri Inggris yang mengutip dari Dailymail.co.uk.

“Keputusan memalukan Anda hanya akan mendorong terorisme terhadap orang Yahudi dan warga sipil tak bersalah di seluruh dunia.”

Ia juga menuduh beberapa pemimpin dunia menyerah pada kejahatan dengan berdiam diri, dan berkata bahwa pengorbanan Israel tidak akan menyelamatkan mereka dari ekstremisme.

“Ini pesan saya kepada para pemimpin Barat: Israel tidak akan membiarkan kalian memaksakan negara teroris kepada kami. Kami tidak akan melakukan bunuh diri nasional hanya karena Anda tidak cukup berani menghadapi media yang memusuhi dan massa anti-Semit yang haus darah,” tegas Netanyahu.

Pernyataan ini muncul setelah Sir Keir Starmer mengumumkan bahwa Inggris secara resmi akan mengakui negara Palestina, menyusul langkah serupa oleh Kanada, Australia, Portugal, Belgia, dan Prancis.

Pidato yang Memicu Kontroversi dan Aksi Walkout

Pidato Netanyahu di Sidang Umum PBB langsung memicu reaksi keras. Puluhan delegasi dari berbagai negara melakukan aksi walkout massal saat ia mulai berbicara. Negara seperti Iran termasuk di antaranya.

Baca Juga:   HUT ke-78 Bhayangkara, Pj Bupati PPU Serahkan Mobil Operasional untuk Polres PPU

Dalam pidatonya, Netanyahu menyebut bahwa pengakuan Palestina oleh negara Barat seolah menunjukkan bahwa ‘membunuh orang Yahudi membuahkan hasil’.

Ia juga menyatakan bahwa pengakuan negara Palestina setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, sama saja dengan memberi negara untuk al-Qaeda setelah 9/11.

“Memberi negara kepada mereka hanya satu mil dari Yerusalem pasca-7 Oktober, itu seperti memberi negara kepada al-Qaeda satu mil dari New York setelah 9/11. Ini kegilaan. Ini benar-benar tidak masuk akal. Kami tidak akan melakukannya.”

Netanyahu juga kembali menyalahkan penolakan Palestina yang terus-menerus terhadap eksistensi negara Yahudi sebagai akar konflik yang sudah berlangsung lebih dari satu abad.

Secara mengejutkan, Netanyahu mengungkapkan bahwa pidatonya disiarkan langsung ke wilayah Gaza, menggunakan pengeras suara besar yang ditempatkan di sepanjang perbatasan Israel-Gaza. 

Kantor Perdana Menteri Israel mengklaim bahwa militer Israel (IDF) bahkan telah mengakses ponsel warga Palestina dan anggota Hamas untuk menyiarkan pidatonya.

Warga Gaza juga dilaporkan menerima pesan teks berisi tautan langsung ke pidato tersebut, meskipun belum ada konfirmasi independen terkait pengambilalihan perangkat tersebut.

Dalam pesannya kepada rakyat Gaza, Netanyahu mengatakan perang bisa segera berakhir jika sandera dikembalikan, Hamas dilucuti, dan Jalur Gaza didemiliterisasi.

Netanyahu kini menghadapi isolasi internasional yang semakin meningkat. Selain pengakuan Palestina oleh lebih dari 150 negara, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) juga telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap dirinya atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan, yang ia bantah.

Majelis Umum PBB sebelumnya juga telah meloloskan resolusi tidak mengikat yang mendesak pembentukan negara Palestina, namun Netanyahu menolak mentah-mentah.

Tak hanya itu, Mahkamah Internasional (ICJ) saat ini sedang menyelidiki tuduhan genosida yang diajukan oleh Afrika Selatan terhadap Israel atas operasi militernya di Gaza. Pemerintah Israel membantah keras tuduhan tersebut.

Baca Juga:   Akan Susul Paslon Anies-Muhaimin Ajukan Gugatan Pilpres ke MK, Ganjar: Apa Pun Putusannya, Kita Legawa

Sementara itu, perang Israel di Gaza telah menyebabkan lebih dari 65.000 warga Palestina tewas, dan membuat 90 persen penduduknya mengungsi, dengan jumlah yang mengalami kelaparan akut terus meningkat.

“Kami tidak akan memberi hadiah kepada Hamas. Dunia bisa mengutuk kami, tapi kami tidak akan menghancurkan negara kami demi menyenangkan opini publik internasional,” tegas Netanyahu di bandara sebelum berangkat ke New York.

Sehari sebelumnya, pemimpin Palestina Mahmoud Abbas juga menyampaikan pidatonya melalui video karena visa AS ditolak.

Abbas menyatakan, dunia harus membantu rakyat Palestina mendapatkan hak mereka untuk bebas dari pendudukan dan tidak dijadikan sandera oleh politik domestik Israel.

Abbas memimpin Otoritas Palestina, yang mengelola sebagian wilayah Tepi Barat, sedangkan Hamas merebut kekuasaan di Gaza sejak tahun 2007. 

Palestina menginginkan Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Gaza sebagai bagian dari negara merdeka, sesuai solusi dua negara yang selama ini didukung komunitas internasional.

Namun, Netanyahu dengan tegas menolak gagasan negara Palestina, menyebutnya sebagai imbalan bagi aksi terorisme.

“Itu tidak akan terjadi,” tegasnya. (*)