SangattaTitiknolKaltim

Kisah Pilu Kapal Tenggelam di Sungai Meratak Kutim, Suami Istri tak Bernyawa

58
×

Kisah Pilu Kapal Tenggelam di Sungai Meratak Kutim, Suami Istri tak Bernyawa

Sebarkan artikel ini
KAPAL TENGGELAM - Sebuah tragedi terjadi di aliran Sungai Meratak, Desa Tepian Langsat, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Sepasang suami istri ditemukan meninggal dunia setelah kapal yang mereka tumpangi tenggelam akibat menabrak kayu hanyut. (HO/BPBD Kutim)

TITIKNOL.ID, SANGATTA – Sebuah tragedi terjadi di aliran Sungai Meratak, Desa Tepian Langsat, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur.

Sepasang suami istri ditemukan meninggal dunia setelah kapal yang mereka tumpangi tenggelam akibat menabrak kayu hanyut.

Kisah ini menjadi duka mendalam, namun juga menyisakan perjuangan luar biasa dari tim pencarian yang berjibaku di tengah derasnya arus dan ancaman habitat buaya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kutai Timur, M. Naim, menjadi salah satu anggota Tim SAR Gabungan yang turun langsung dalam misi pencarian.

Ia mengaku menerima laporan tenggelamnya kapal pada Senin sore, 6 Oktober 2025, dan langsung bergerak ke lokasi keesokan harinya.

Perjalanan Menuju Lokasi

Pada Selasa 7 Oktober 2025 pukul 09.30 Wita, Naim bersama enam personel BPBD Kutim berangkat menuju Desa Tepian Langsat.

Mereka membawa tiga armada lengkap dengan satu unit perahu bermesin, dayung, dan tenda, sebagai antisipasi jika harus bermalam di lokasi.

Perjalanan dari Sangatta menuju desa tersebut memakan waktu sekitar tiga jam.

Sesampainya di lokasi, pencarian dilakukan bersama Kapolsek Bengalon, Polairud, Tim SAR Provinsi, serta personel BPBD provinsi yang menurunkan empat anggota dan satu unit kendaraan.

Menurut laporan dari keluarga korban, insiden bermula saat Helmiana Neri dan Marsel Jekson (pasangan suami istri yang menjadi korban), bersama satu orang lainnya yang merupakan pemilik kapal dan kebun, mengangkut hasil panen berupa labu kuning dan kelapa sawit.

Sebanyak 40 buah labu kuning berukuran besar serta tumpukan sawit dibawa menggunakan kapal kecil milik warga. Karena labu sudah ditunggu pembeli, mereka segera berlayar pulang meski muatan cukup berat.

Namun di tengah perjalanan, kapal menabrak kayu besar yang hanyut di Sungai Meratak.

Baca Juga:   Otorita IKN akan Uji Coba Mobil Tanpa Awak dan Mobil Terbang Juli Mendatang

Akibat benturan itu, kapal oleng dan menghantam pohon di pinggir sungai, hingga pecah di sisi kiri.

“Air deras langsung masuk ke dalam perahu. Kedua korban panik dan ternyata tidak bisa berenang, hingga akhirnya hanyut terbawa arus,” terang Naim.

Sementara itu, satu orang lainnya, pemilik kapal, selamat karena berhasil berenang ke tepian sungai.

Proses Pencarian Korban

Pencarian dimulai hari itu juga, Selasa. Kondisi air Sungai Meratak sedang pasang, dengan cuaca cukup bersahabat.

Namun, arus sungai terbilang deras dan debit air tinggi, sehingga cukup menyulitkan tim SAR.

Menariknya, saat berangkat, perahu harus menggunakan mesin. Tapi saat kembali, arus begitu kuat hingga cukup menggunakan dayung.

Warga sekitar pun turut membantu dengan menggunakan perahu ketinting milik mereka.

Antusiasme dan solidaritas warga jadi penyemangat tambahan bagi tim pencari.

Namun, hingga hari pertama pencarian berakhir, belum ada tanda-tanda korban ditemukan.

Baru pada Rabu 8 Oktober 2025 pukul 13.30 Wita, jenazah perempuan atas nama Helmiana Neri ditemukan sekitar 1,5 kilometer dari lokasi kejadian dalam kondisi meninggal dunia. Tubuhnya utuh dan masih mengenakan pakaian lengkap.

Tak lama berselang, sekitar pukul 18.10 Wita, Naim menerima informasi dari warga yang melihat sesuatu di sungai. Tim SAR segera bergerak dan menemukan jenazah laki-laki, Marsel Jekson, sejauh 2 kilometer dari TKP.

“Saat kami angkat ke perahu, tubuh korban hanya mengenakan celana dan sepatu kebun. Karena terlalu lama di air, tubuhnya tampak bengkak,” ungkap Naim.

Ancaman Buaya Sungai

Sungai Meratak dikenal sebagai habitat buaya yang cukup aktif. Beberapa insiden serangan buaya pernah terjadi di wilayah ini.

Beruntung, kedua jenazah korban ditemukan dalam kondisi utuh.

“Malam saat pencarian, kami sempat melihat penampakan buaya. Bahkan esok paginya, saya melihat anak buaya muncul ke permukaan,” jelas Naim.

Baca Juga:   Pendapatan Daerah Penajam Paser Utara Turun Rp142 Miliar, APBD 2025 Direvisi

Meski kondisi penuh risiko, seluruh proses pencarian berjalan lancar dan kedua korban berhasil dievakuasi dengan layak. (*)