BerauTitiknolKaltim

Pemuda Berprestasi di Berau Diduga jadi Pelaku Asusila, DPRD Dorong Tes Psikologi

111
×

Pemuda Berprestasi di Berau Diduga jadi Pelaku Asusila, DPRD Dorong Tes Psikologi

Sebarkan artikel ini
KASUS ASUSILA BERAU - Foto ilustrasi simbol pria dan wanita. Publik Berau sedang dihebohkan oleh kabar tak terduga. Seorang pemuda yang selama ini dikenal berprestasi dan memiliki rekam jejak mentereng, diduga terlibat dalam kasus penyimpangan asusila. (Meta Ai) 

TITIKNOL.ID, TANJUNG REDEB – Publik Berau sedang dihebohkan oleh kabar tak terduga. Seorang pemuda yang selama ini dikenal berprestasi dan memiliki rekam jejak mentereng, diduga terlibat dalam kasus penyimpangan asusila.

Sosok yang bersangkutan diketahui memiliki sederet predikat positif, yakni seperti: 

  • Prestasi jadi Duta Wisata;
  • Pramuka Terbaik;
  • Aktif di Pokdarwis;
  • hingga menjadi anggota Pejuang Sigap. 

Wakil Ketua I DPRD Berau, Subroto, langsung angkat bicara terkait skandal yang memprihatinkan ini.

Kontrasnya prestasi si pelaku dengan dugaan kasus ini sontak menarik perhatian khalayak ramai.

Subroto menegaskan, kasus ini adalah tamparan keras yang harus dijadikan pelajaran bersama demi mencegah kejadian serupa terulang.

Apalagi, korban yang terlibat dikabarkan cukup banyak.

“Ini jadi pelajaran bersama dan harus dicegah. Semua pihak harus terlibat. Jangan sampai kasus seperti ini kembali terjadi di wilayah lain dengan korban yang lebih banyak,” tegas Subroto, Minggu (23/11/2025).

Sebagai langkah antisipatif yang konkret, Subroto mendorong Pemerintah Daerah Berau untuk segera menerapkan normalisasi tes psikologis sebagai syarat wajib.

Terutama bagi mereka yang menempati posisi strategis dan rutin berinteraksi dengan banyak orang di organisasi maupun masyarakat.

“Kita tidak ingin posisi yang ditempatinya disalahgunakan untuk hal-hal negatif. Jadi saya kira, tes psikologis itu perlu dilakukan,” ujarnya.

Ia bahkan menyatakan dukungan penuh jika tes psikologis ini diterapkan dalam proses rekrutmen Pejuang Sigap maupun aparatur kampung.

Ini adalah upaya serius untuk membentengi diri dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Peran Keluarga jadi Kunci Utama

Selain kebijakan struktural, Subroto juga menyoroti peran sentral keluarga.

Menurutnya, pengawasan orang tua serta pembekalan ilmu agama dan moral harus diperkuat, baik dalam kegiatan sekolah maupun luar sekolah.

Baca Juga:   Pj Bupati PPU tak Ingin Kepala Desa Terlibat Persoalan Hukum

“Pengawasan dan pembekalan agama serta moral itu penting untuk membentuk mental anak. Tentu kita tidak ingin perilaku menyimpang ini terus muncul di sekitar kita,” jelasnya.

Subroto berharap kasus ini menjadi yang terakhir di Kabupaten Berau.

Ia juga meminta Pemda agar memberikan perhatian serius untuk memulihkan trauma para korban dan memberi pendampingan agar perilaku menyimpang tidak ‘menular’.

“Harapannya ini yang terakhir. Kami juga mendukung upaya aparat kepolisian menuntaskan kasus ini,” tutupnya. (*)