Jembatan ambruk total setelah diterjang arus sungai yang deras. Parahnya, material sisa normalisasi sungai menjadi faktor utama yang menghantam dan merobohkan jembatan!
TITIKNOL.ID, SANGATTA – Bencana melanda warga Desa Tepian Indah, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur.
Jembatan utama yang menjadi urat nadi perekonomian masyarakat ambruk total setelah diterjang arus sungai yang deras pada Selasa 9 Desember 2025, sekitar pukul 10.00 Wita.
Kerusakan parah ini praktis melumpuhkan aktivitas harian, terutama bagi sekitar 17 Kepala Keluarga (KK) di RT 21 Desa Persiapan Tepian Raya yang berinduk pada Desa Tepian Indah.
Jembatan kayu ulin sepanjang kurang lebih 7 meter ini merupakan satu-satunya jalur penghubung antara area permukiman dan kebun sawit utama warga dengan pusat desa.
Kepala Desa Tepian Indah, Quirinus Parwono Rasi, menjelaskan bahwa kerusakan ini dipicu oleh hujan yang mengguyur tanpa henti selama empat hari.
“Curah hujan sudah 4 hari tidak berhenti sehingga jembatannya jebol,” ungkap Quirinus Parwono Rasi yang dikutip Titiknol.id, Rabu (10/12/2025).
Ia menambahkan, kerusakan yang terjadi bukan hanya retakan kecil, melainkan amblesnya seluruh konstruksi jembatan akibat longsor di bagian pondasi.
Kondisi ini menyebabkan kendaraan roda empat maupun roda dua tidak mungkin melintas, menghambat pengangkutan hasil perkebunan.
“Itu satu-satunya akses masyarakat saya untuk mengeluarkan hasil perkebunan, khususnya sawit,” tegasnya, menegaskan dampak besar pada sumber ekonomi utama warga.
Material Sisa Normalisasi jadi Pemicu Utama
Nuryadi, Kasi Pelayanan Desa Tepian Indah, memberikan penjelasan lebih detail mengenai kronologi kejadian.
Menurutnya, naiknya debit air sungai memang memicu arus deras. Namun, faktor utama yang mempercepat ambruknya jembatan adalah material sisa proyek normalisasi sungai.
“Arus deras terjadi karena ada normalisasi sungai. Di situ ada rumpun bambu yang belum sempat dinaikkan, terus hanyut dan menghantam jembatan itu. Jadinya air lewat pinggir, menggerus tanah, lalu ambles,” jelas Nuryadi.
Jembatan yang dibangun sekitar tahun 2007 ini sebelumnya telah beberapa kali mengalami perbaikan, dengan perbaikan terakhir dilakukan sekitar tiga tahun lalu.
Namun, usia jembatan dan kerusakan lama yang belum tertangani sepenuhnya membuat struktur tidak mampu menahan terjangan arus.
Ambil Jalur Alternatif yang Lebih Jauh
Meskipun akses utama terputus total, warga di RT 21 masih memiliki jalur alternatif untuk keluar masuk kampung.
Namun, jalur ini memutar jauh dan memakan waktu tempuh lebih lama, yang tentu saja sangat mengganggu mobilitas harian, termasuk akses pendidikan bagi anak-anak sekolah.
“Kalau anak-anak mungkin bisa lewat jalan alternatif, cuma mungkin agak jauh,” ujar Nuryadi.
Pemerintah Desa saat ini tengah menunggu tindak lanjut dari instansi terkait di tingkat daerah.
Mengingat vitalnya peran jembatan ini, serta usianya yang sudah tua, masyarakat dan perangkat desa berharap Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dapat segera mengambil tindakan cepat untuk membangun jembatan baru yang lebih kokoh dan tahan terhadap derasnya arus sungai di masa depan.
“Terakhir diperbaiki sudah lama, sekitar 3 tahun lalu. Semoga ada bantuan dari Pemerintah Daerah untuk memperbaiki jembatan tersebut,” pungkas Nuryadi. (*)












