Penajam

DBD di PPU Menurun, 2 Kasus Kematian Jadi Catatan Akhir Tahun

47
×

DBD di PPU Menurun, 2 Kasus Kematian Jadi Catatan Akhir Tahun

Sebarkan artikel ini
DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) - Dinkes PPU melaporkan kasus DBD 2025 menurun dibandingkan tahun 2024, menjadi 311 kasus. Fungsional Entomologi Dinkes PPU, Harjito Ponco Waluyo sebut ada dua kasus kematian (TITIKNOL.ID/Cindy)

TITIKNOL.ID, PENAJAM – Dinas Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat dua kasus kematian akibat Demam Berdarah Dengue (DBD) sepanjang 2025. Pasien merupakan anak usia sekolah, masing-masing berumur 10 dan 14 tahun.

Fungsional Entomologi Dinas Kesehatan PPU, Harjito Ponco Waluyo, menyebut kejadian tersebut sebagai kecolongan yang terjadi di penghujung tahun.

Dua kasus itu masing-masing terjadi di Kecamatan Sepaku dan Kecamatan Waru.

“Ini saya anggap kecolongan. Satu di Sepaku, satu di Waru,” ujar Ponco, Selasa (30/12/2025).

Padahal, secara umum angka kasus DBD di PPU tahun 2025 mengalami penurunan signifikan. Total tercatat 311 kasus, jauh lebih rendah dibanding 2024 yang mencapai 1.484 kasus.

Dari total 311 kasus tersebut, Kecamatan Sepaku menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak. Berdasarkan data, penderita didominasi laki-laki sebanyak 277 kasus dan perempuan 84 kasus.

Kelompok usia yang paling banyak terserang berada pada rentang 5-9 tahun, 10-14 tahun, 15-19 tahun, hingga usia produktif 20-45 tahun.

Ponco menjelaskan, kematian di Semoi, Kecamatan Sepaku terjadi karena keterlambatan penanganan. Pasien sempat menjalani perawatan di luar selama tujuh hari tanpa deteksi dini, sebelum akhirnya dibawa ke Puskesmas.

Sementara kasus di Waru, anak baru dibawa ke fasilitas kesehatan pada hari keempat sakit. Kondisinya sudah mengalami penurunan kesadaran dan sempat dirujuk ke rumah sakit, namun hanya bertahan satu malam.

“Begitu sampai, kondisinya sudah berat,” ungkapnya.

Menurut Ponco edukasi kepada masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah besar. Banyak warga belum memahami bahwa sakit atau demam tanpa sebab justru berisiko dan harus segera diperiksa.

“Banyak yang menganggap biasa. Padahal sakit tanpa sebab itu lebih berbahaya, sehingga deteksinya jadi lambat,” katanya.

Baca Juga:   Pemkab PPU Kolaborasi dengan BPS PPU Gelar FGD Daerah Dalam Angka 2024

Ia menambahkan, Dinkes PPU sebenarnya telah mendistribusikan alat tes cepat NS1 di seluruh Puskesmas induk untuk mendeteksi dini virus dengue, namun tak semua masyarakat langsung mendatangi Puskesmas untuk berobat.

Ponco mengatakan kasus kematian akibat DBD di akhir tahun ini menjadi catatan serius bagi Dinkes PPU, sekaligus pengingat pentingnya kewaspadaan dan deteksi dini di masyarakat.

(TN01)