Dari Tanah Grogot menjadi Tana Paser, dari Pasir menjadi Paser. Perjalanan 66 tahun ini adalah bukti ketangguhan masyarakat di ujung selatan Kalimantan Timur. Sudahkah kamu tahu sejarah panjang di balik nama-nama tempat yang kita tinggali hari ini? Simak ulasan lengkap Hari Jadi Paser di sini
TITIKNOL.ID, TANA PASER – Suasana di Halaman Kantor Bupati Paser di Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur pada Senin 29 Desember 2025 pagi, terasa berbeda.
Ribuan warga memadati lokasi dengan antusiasme yang hangat. Hari itu bukan sekadar upacara rutin, melainkan perayaan sebuah perjalanan panjang.
Kabupaten Paser resmi menapaki usia ke-66 tahun, sebuah usia yang matang bagi wilayah paling selatan di Kalimantan Timur ini.
Kemeriahan Hari Jadi ke-66 ini dibuka dengan balutan nostalgia.
Melalui tayangan video sejarah dan kaleidoskop pembangunan, warga diajak menengok kembali wajah Paser di masa lalu hingga capaian spektakuler sepanjang tahun 2025.
Bupati Paser, Fahmi Fadli, yang memimpin langsung peringatan tersebut, tak mampu menyembunyikan rasa bangganya.
Ia menyebut momen ini sebagai titik balik yang penuh makna.
“Ini adalah momen kita bersama. Di tahun pertama ‘Paser Tuntas’, kita bisa menghadirkan perayaan yang spektakuler. Setiap individu yang hadir hari ini adalah bagian dari sejarah yang akan diceritakan kepada generasi mendatang,” ujar Fahmi penuh syukur.
Warisan Ratu Aji Putri Petong
Meski secara administratif baru berusia 66 tahun, “napas” Paser sebenarnya telah berembus sejak abad ke-16.
Jauh sebelum hiruk-pikuk pembangunan hari ini, wilayah ini adalah jantung dari Kerajaan Sadurengas yang berdiri sekitar tahun 1516 Masehi.
Sejarah mencatat kepemimpinan legendaris seorang perempuan, Ratu Aji Putri Botung atau yang lebih dikenal sebagai Ratu Aji Putri Petong.
Garis keturunannyalah yang kemudian membawa pengaruh besar, termasuk saat beliau menikah dengan Abu Mansyur Indra Jaya, seorang pimpinan ekspedisi Islam dari Kesultanan Demak.
Nama “Sadurengas” pun tak lekang oleh waktu. Nama itu kini abadi menjadi nama museum yang menempati eks rumah Sultan Aji Tenggara di Desa Paser Belengkong, sekaligus menjadi nama gelanggang olahraga kebanggaan warga.

Transformasi Menuju Tana Paser
Perjalanan Paser menjadi daerah otonom penuh liku. Sempat berstatus kewedanaan di bawah Provinsi Kalimantan Selatan, wilayah ini akhirnya resmi menjadi daerah otonom pada 29 Desember 1959.
Barulah pada tahun 1961, Paser “berlabuh” menjadi bagian dari Kalimantan Timur.
Nama kabupaten ini pun sempat mengalami perubahan. Dari yang semula bernama Kabupaten Pasir, berubah menjadi Kabupaten Paser melalui PP No. 49 Tahun 2007.
Tak hanya nama kabupaten, ibu kotanya pun bersalin nama dari Tanah Grogot menjadi Tana Paser pada tahun 2013, sesuai aspirasi masyarakat yang ingin memperkuat identitas lokal.
Kini, di bawah panji Bumi Daya Taka, Paser tumbuh menjadi rumah bagi sekitar 310 ribu jiwa yang tersebar di 10 kecamatan.
Dengan bentang alam yang unik, mulai dari pesisir Selat Makassar di timur hingga perbukitan yang berbatasan dengan Kalimantan Selatan di barat, Paser memiliki kekayaan geografis yang luar biasa.
Kecamatan Tana Paser tetap menjadi pusat denyut nadi dengan populasi terbanyak mencapai 87 ribu jiwa.
Sementara itu, wilayah seperti Muara Samu terus bersolek sebagai representasi semangat pemekaran dan pemerataan pembangunan.
Bagi masyarakat Paser, angka 66 bukan sekadar urutan tahun.
Ia adalah simbol ketangguhan sebuah wilayah yang berakar dari kerajaan kuno, melewati dinamika politik nasional, dan kini berdiri tegak menatap masa depan dengan semangat “Paser Tuntas”.
(*)












