Bukan jembatan, melainkan katrol kayu dan seutas tali yang menjadi taruhan nyawa anak-anak di Santan Ulu setiap kali berangkat sekolah. Sampai kapan mereka harus menantang maut?
TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Potret buram infrastruktur di pelosok Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Provinsi Kalimantan Timur, kembali terkuak.
Di Desa Santan Ulu, tepatnya di RT 09 Dusun Damai, Kecamatan Marangkayu, warga dan anak-anak sekolah harus menjalani rutinitas yang mengerikan: menantang maut di atas seutas tali.
Alih-alih melintasi jembatan kokoh, mereka terpaksa mengandalkan kereta gantung atau katrol kayu sederhana untuk menyeberangi sungai.
Fasilitas darurat yang berlokasi di kawasan Equator ini menjadi satu-satunya akses penghubung bagi warga menuju sekolah maupun lahan perkebunan hortikultura.
Ancaman Arus Deras dan Predator Air
Kondisi memprihatinkan yang telah menahun ini memicu reaksi keras dari Anggota DPRD Kaltim, Baharuddin Demmu. Ia menyoroti betapa besarnya risiko yang dihadapi masyarakat setiap harinya, terutama bagi anak-anak yang hanya ingin menuntut ilmu.
Tanpa pengaman memadai, risiko terjatuh ke sungai bukan satu-satunya ketakutan. Sungai di bawah lintasan katrol tersebut dikenal memiliki arus deras dan menjadi habitat predator air yang mengintai sewaktu-waktu.
“Bayangkan kalau tiba-tiba jatuh. Di bawah itu arusnya deras, belum lagi ada ancaman buaya. Ini sangat berbahaya bagi warga, apalagi anak-anak sekolah,” tegas politisi Fraksi PAN tersebut, Minggu (15/3/2026).
Menagih Janji Pemerintah Daerah
Baharuddin menyayangkan lambatnya respons pemerintah daerah, padahal jeritan warga Santan Ulu mengenai akses jembatan ini sudah disuarakan sejak bertahun-tahun lalu.
Baginya, hamparan lahan hortikultura yang menjadi urat nadi ekonomi warga di sana seharusnya didukung dengan infrastruktur yang layak, bukan katrol rapuh.
Ia mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar, khususnya Bupati, untuk segera turun tangan dan memprioritaskan pembangunan jembatan permanen di lokasi tersebut.
“Sebenarnya pihak Kabupaten maupun Bupati sudah tahu masalah ini. Kami minta supaya segera ditindaklanjuti. Jangan menunggu jatuh korban baru bergerak, karena kondisi di lapangan benar-benar berbahaya,” pungkasnya. (*)












