BerauTitiknolKaltim

Pelangi di Atas Kanvas, Cerita Hangat dari Workshop Sahabat Inklusi di Berau Kaltim

147
×

Pelangi di Atas Kanvas, Cerita Hangat dari Workshop Sahabat Inklusi di Berau Kaltim

Sebarkan artikel ini
KARYA SENI MELUKIS - Berau melukis. Di sanalah, anak-anak dari berbagai latar belakang berkumpul, kuas di tangan, senyum di wajah siap menuangkan dunia mereka ke atas kanvas. Komunitas Gerobooks, bersama para pegiat seni di Berau, menghadirkan acara bertajuk Merayakan Kita: Karya dari Sahabat Inklusi. (Meta Ai)

TITIKNOL.ID, TANJUNG REDEB – Ruang rapat Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah XIV Kaltim mendadak berubah wajah.

Bukan lagi tempat penuh tumpukan dokumen dan meja rapat, tapi jadi ruang penuh warna, tawa, dan imajinasi.

Di sanalah, anak-anak dari berbagai latar belakang berkumpul, kuas di tangan, senyum di wajah siap menuangkan dunia mereka ke atas kanvas.

Komunitas Gerobooks, bersama para pegiat seni di Berau, menghadirkan acara bertajuk “Merayakan Kita: Karya dari Sahabat Inklusi.”

Hal tersebut merupakan sebuah kegiatan inklusif yang memberi ruang bagi anak-anak penyandang disabilitas untuk mengekspresikan diri lewat seni lukis.

“Anak-anak ini punya cerita, punya dunia, dan mereka butuh ruang untuk menunjukkan itu. Lewat kegiatan ini, kami ingin mereka tahu bahwa karya mereka dihargai, dan kehadiran mereka dirayakan,” ungkap Risna Herjayanti, pendiri Komunitas Gerobooks.

Selama tiga hari, sebanyak 22 anak dari SLB Tanjung Redeb, 17 siswa SLB lainnya, serta perwakilan dari empat sekolah inklusi, mulai dari PAUD hingga SMA, larut dalam proses kreatif yang membebaskan. Tanpa tekanan, tanpa batasan.

Setelahnya, karya-karya mereka akan dipamerkan di Atara Studio, pada 11 Oktober hingga 18 Oktober 2025.

Tak sekadar pameran, ini adalah selebrasi atas potensi yang selama ini tersembunyi, sekaligus undangan bagi publik untuk melihat dunia dari sudut pandang yang lebih jujur dan penuh warna.

Bagi Risna, “Merayakan Kita” lahir dari keprihatinan terhadap masih terbatasnya ruang inklusif bagi anak-anak difabel.

“Kita tidak sedang membuat ruang khusus, tapi ruang bersama, di mana semua anak, apapun latar belakangnya bisa tumbuh dan bersinar,” tuturnya.
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Badan Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV Kaltimtara serta Dinas Pendidikan Kaltim. Mereka menilai, pendidikan budaya harus bisa merangkul keberagaman dan menjunjung nilai kesetaraan.

Baca Juga:   Pengenalan Perpustakaan

Tak hanya pameran, rangkaian acara juga mencakup diskusi publik dan lokakarya inklusi, dengan harapan dapat menginspirasi sekolah dan komunitas lainnya untuk membuka ruang serupa di berbagai wilayah.

Cerita di Balik Kuas

Salah satu momen yang paling menyentuh datang dari cerita Rahmawati, ibu dari remaja 15 tahun penyandang tunagrahita.

“Anak saya pendiam, pemalu, dan jarang sekali bicara. Tapi dia suka nyanyi, dan sekarang mulai melukis. Di sekolah dia lebih banyak diam, tapi di sini dia terlihat lebih bebas. Ini bukan cuma soal menggambar, tapi soal keberanian untuk tampil dan bersosialisasi,” ujarnya dengan mata berbinar.

Ia mengaku awalnya hanya mendampingi, tanpa ekspektasi besar. Namun justru sang anak menunjukkan antusiasme yang luar biasa.

“Yang pilih tema dan warna lukisan itu anak saya sendiri. Saya cuma mendukung dari belakang. Dan rasanya, melihat dia begitu berani, itu lebih dari cukup,” tambahnya.
Ruang untuk Didengar

“Merayakan Kita” bukan sekadar judul kegiatan, tapi juga semacam harapan. Harapan bahwa di tengah hiruk-pikuk kehidupan, kita tak lupa memberi ruang untuk mendengar, melihat, dan menghargai mereka yang selama ini jarang mendapat panggung.

Karena pada akhirnya, setiap anak berhak untuk bersinar. Dengan caranya sendiri. Di waktu yang tepat. Di ruang yang terbuka untuk semua. (*)