TITIKNOL.ID, PENAJAM – Cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Semua Paser Utara (PPU) tidak hanya meningkatkan risiko kekeringan pada lahan pertanian, tetapi juga memicu lonjakan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).
Kondisi tersebut berpotensi menurunkan produktivitas padi hingga menyebabkan gagal panen apabila tidak segera dikendalikan.
Dinas Pertanian (Distan) PPU mencatat sejumlah jenis hama mulai menyerang tanaman padi, di antaranya wereng, penggerek batang, dan tikus.
Serangan hama tersebut menjadi salah satu dampak yang muncul seiring perubahan kondisi cuaca dalam beberapa waktu terakhir.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distan PPU, Gunawan, mengatakan cuaca ekstrem menjadi salah satu faktor yang memicu meningkatnya serangan OPT di lahan pertanian.
Kondisi tersebut telah dilaporkan secara resmi dan menjadi perhatian dalam upaya pengendalian.
“Memang dampak dari cuaca ekstrem. Yang kita alami sudah kami laporkan secara resmi,” kata Gunawan, Jumat (31/7/2026).
la menjelaskan, setiap laporan serangan hama yang diterima menjadi dasar penerbitan peringatan dini atau surat merah kepada petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT).
Langkah itu dilakukan agar penanganan di lapangan dapat segera dilakukan sebelum serangan meluas.
Menurut Gunawan, metode pengendalian disesuaikan dengan tingkat serangan. Apabila intensitas serangan telah mencapai sedikitnya 25 persen dari luasan tanaman, pengendalian dilakukan secara massal dengan dukungan insektisida.
Sementara itu, jika tingkat serangan masih di bawah ambang tersebut, petani diarahkan melakukan pengendalian secara mandiri dengan pendampingan petugas.
Sepanjang periode Januari hingga 10 Juli 2026, Distan PPU telah melakukan 22 kali kegiatan pengendalian OPT dengan cakupan lahan mencapai 581 hektare. Serangan yang paling banyak ditangani berasal dari hama tikus dan penggerek batang.
Gunawan menegaskan kecepatan penanganan menjadi kunci untuk mencegah kerusakan tanaman semakin luas.
Menurutnya, serangan hama yang tidak segera dikendalikan dapat menurunkan kualitas hasil panen sekaligus mengurangi produktivitas pertanian.
“Kalau cepat tertangani, kita bisa mencegah dampaknya lebih besar. Kalau tidak ditangani, kualitas dan produktivitas jelas akan turun,” pungkasnya. (TN02)












