Penajam

Ratusan Sopir Truk di PPU Gelar Aksi Protes, Keluhkan Kelangkaan Bio Solar

235
×

Ratusan Sopir Truk di PPU Gelar Aksi Protes, Keluhkan Kelangkaan Bio Solar

Sebarkan artikel ini
Aksi protes para pengemudi truk, sejak pukul 10.00 WITA mereka memadati halaman depan kantor Bupati PPU, Rabu (6/8/2025)

TITIKNOL.ID, PENAJAM – Ratusan sopir truk di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menggelar aksi unjuk rasa di halaman Kantor Bupati PPU, Rabu (6/8/2025) pagi.

Aksi ini dipicu oleh kelangkaan bahan bakar jenis bio solar yang sudah berlangsung lebih dari satu minggu, tanpa penjelasan resmi dari pihak terkait.

Para pengemudi menilai kelangkaan ini telah menghambat aktivitas kerja mereka, yang berdampak langsung pada penurunan pendapatan harian.

Muspar Efendi (45), salah satu sopir asal Desa Girimukti, Kecamatan Penajam, mengaku kecewa karena tidak mendapat kejelasan dari pihak SPBU maupun Pertamina terkait situasi tersebut.

“Sudah seminggu kami menunggu, tapi tidak ada informasi pasti. Tidak ada pengiriman bio solar, dan tidak ada penjelasan dari pihak SPBU maupun Pertamina,” ujarnya kepada wartawan.

Menurut Muspar, kelangkaan serupa pernah terjadi sebelumnya. Para sopir menduga adanya praktik penyelewengan distribusi bahan bakar oleh pihak tertentu.

“Masalah seperti ini bukan yang pertama. Ada kemungkinan rayap minyak, ulah oknum pelangsir atau pihak lain yang menyalahgunakan distribusi solar,” ungkapnya.

Biasanya, setiap truk memperoleh jatah sekitar 80 liter solar per hari. Namun, sejak kelangkaan terjadi, aktivitas truk menjadi terbatas. Bahkan, banyak di antaranya tidak lagi beroperasi secara penuh.

“Kalau operasional sampai ke Kabupaten Paser atau Tanah Grogot, 80 liter bisa habis dalam sehari. Tapi kalau hanya di sekitar Penajam, bisa cukup untuk tiga hari,” jelasnya.

Para sopir berharap pemerintah daerah dan Pertamina segera menindaklanjuti permasalahan ini agar pasokan bio solar kembali normal.

Bahan bakar tersebut, lanjut Muspar merupakan kebutuhan vital untuk menunjang aktivitas ekonomi.

“Kalau kami beli eceran, harganya lebih mahal. Pendapatan jadi habis untuk biaya bahan bakar, tidak ada lagi yang bisa dibawa pulang ke rumah,” keluh Muspar.

Baca Juga:   Pembangunan SMPN 28 PPU Masih dalam Tahap Perencanaan, Anggaran Belum Tersedia

Ia menegaskan, meskipun sebagian sopir terpaksa membeli solar eceran agar tetap bisa bekerja, kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.

“Daripada tidak bekerja sama sekali, kami terpaksa beli eceran. Tapi harapan kami tetap agar ada solusi dari pemerintah secepatnya,” pungkasnya.

(TN01)