Banjir datang, banjir surut. Inilah gambaran cepat bencana di Karangan, Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Namun, di Muara Wahau dan Telen, air masih bertahan. Bagaimana strategi BPBD Kutim menghadapi pergerakan air yang tak terduga ini?
TITIKNOL.ID, SANGATTA — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) telah menerima peringatan dini cuaca ekstrem dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang diprediksi berlangsung panjang, yakni mulai November 2025 hingga Juni 2026.
Prediksi ini terbukti dengan tingginya curah hujan di beberapa wilayah Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur sejak November 2025.
Bencana banjir kini dilaporkan terjadi di tiga kecamatan, meliputi:
- Karangan;
- Muara Wahau;
- dan Telen.
Kepala BPBD Kutim, Sulastin, memaparkan bahwa Kecamatan Karangan sempat dilanda banjir selama dua hari terakhir di sekitar bantaran Sungai Karangan.
“Tetapi sejak tadi pagi laporannya sudah mulai surut, terbaru informasinya sudah kering. Memang terjadinya di bantaran sungai, jadi mudah banjir tapi cepat juga surut,” ujar Sulastin, Senin (8/12/2025).
Tiga desa yang terdampak di Kecamatan Karangan adalah:
- Desa Karangan Dalam;
- Desa Karangan Ilir;
- dan Desa Karangan Seberang.
Muara Wahau dan Telen Masih Bertahan
Sementara itu, bencana banjir juga melanda Kecamatan Muara Wahau sejak pagi hari, akibat hujan lebat pada hari sebelumnya.
Berdasarkan informasi dari warga setempat, ketinggian air di Muara Wahau mencapai 30 hingga 80 sentimeter.
Desa-desa di Muara Wahau yang dekat dengan aliran Sungai Wahau dan terdampak banjir meliputi Desa Jak Luay, Desa Bea Nehas (Benhes), dan Desa Dabeq.
Selain Muara Wahau, banjir juga terjadi di Kecamatan Telen.
“Dalam pemantauan kami, air di Muara Wahau ini masih bertahan untuk surut. Ini Kecamatan Telen juga banjir di Desa Marah Haloq yang dekat dengan bantaran sungai,” jelas Sulastin.
BPBD Turunkan Tim Reaksi Cepat
Menanggapi situasi ini, BPBD Kutim telah bergerak cepat dengan menurunkan Tim Reaksi Cepat (TRC) Bencana.
Tim ini bertindak sebagai perpanjangan tangan BPBD untuk membantu dan memantau perkembangan banjir di setiap kecamatan.
“Setiap kecamatan juga sudah tersedia baju pelampung, perahu karet, dan tim relawan kita yang kita sediakan untuk koordinasi melalui WhatsApp,” pungkas Sulastin, memastikan kesiapsiagaan logistik dan komunikasi di lapangan.
(*)












