Di balik megahnya IKN, ternyata masih ada 3 desa di Kalimantan Timur yang menyandang status ‘Tertinggal’. Gubernur Rudy Mas’ud pun meradang dan beri instruksi tegas, segera hapus status itu! Simak langkah cepat Pemprov Kaltim di sini
TITIKNOL.ID, BONGAN – Di tengah masifnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), ironi masih menyelimuti tiga desa di Kecamatan Bongan, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur.
Desa Deraya, Tanjung Soke, dan Gerunggung hingga kini masih menyandang status desa tertinggal.
Meski desa tetangganya, Lemper, baru saja naik kelas menjadi desa berkembang, keempat desa ini nyatanya masih terbelenggu oleh isolasi akibat infrastruktur jalan yang rusak parah.
Kondisi ini mendapat perhatian serius dari Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud.
Saat menerima laporan dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) awal pekan ini, Gubernur langsung memberikan instruksi keras kepada jajaran organisasi perangkat daerah (OPD).
“Segera lakukan kegiatan di sana agar tidak ada lagi desa tertinggal di Kaltim,” tegas Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud.
Tak ingin sekadar wacana, ia segera memerintahkan Bappeda, Dinas PUPR, BPKAD, hingga Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) untuk duduk bersama dan mempercepat solusi bagi desa-desa tersebut.
Proyek Strategis Rp183 Miliar Mulai Beroperasi
Kabar baik kini hadir bagi masyarakat Kecamatan Bentian Besar.
Ruas jalan nasional Muara Lawa–Bentian Besar yang menjadi urat nadi penghubung Kaltim dan Kalteng mulai diperbaiki secara besar-besaran tahun 2026 ini.
Proyek senilai Rp183 miliar yang bersumber dari APBN tersebut dikerjakan oleh PT Bumi Karsa.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Minggu (25/1/2026), alat-alat berat sudah mulai diterjunkan untuk menutup lubang dan memperbaiki struktur badan jalan.
Aspal hingga Betun Sepanjang 40 KM
Kabag Teknik PT Bumi Karsa, Lalu Syamsul Wathoni, menjelaskan bahwa peningkatan jalan ini membentang sepanjang 40 kilometer, mulai dari Simpang Kalteng hingga STA 40.
Metode pengerjaan akan disesuaikan dengan kondisi tanah di lapangan:
- Aspal: Untuk area dengan struktur tanah stabil.
- Cor Beton (Rigid): Untuk titik-titik dengan beban berat atau tanah labil.
- Agregat: Tahap pengerasan di titik tertentu.
“Kami sudah siapkan Asphalt Mixing Plant (AMP) dan batching plant langsung di lokasi agar pengerjaan lebih cepat,” jelas Syamsul.
Meskipun pengerjaan dikebut, tantangan besar tetap mengintai, mulai dari cuaca ekstrem hingga lalu lintas kendaraan berat pengangkut Crude Palm Oil (CPO).
Titik-titik parah seperti di Kilometer 11 (Gunung Odang) hingga Kilometer 13 (Pancuran) menjadi fokus utama perbaikan.
Demi menjaga ketahanan jalan yang baru diperbaiki, pihak pelaksana berencana memasang rambu pembatasan tonase.
“Kendaraan yang melintas nantinya akan dibatasi maksimal 8 ton. Ini penting agar jalan tidak cepat rusak kembali dan masyarakat bisa menikmati akses yang mulus lebih lama,” pungkas Syamsul. (*)












