Tidak perlu lagi bayar feri Rp400 ribu buat bolak-balik belanja. Jembatan Nibung di Kutim resmi dibuka oleh Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud. Simak curhatan bahagia warga yang kini bisa hemat banyak
TITIKNOL.ID, SANGATTA – Penantian panjang masyarakat di kawasan utara Kalimantan Timur akhirnya berbuah manis.
Mulai Rabu (25/2/2026), Jembatan Nibung yang menghubungkan Kadungan dan Pelawan di Kabupaten Kutai Timur resmi dibuka untuk umum.
Beroperasinya jembatan ini menjadi angin segar, khususnya bagi pengguna jalan di jalur pesisir.
Salah satu warga yang merasakan dampak langsungnya adalah Emek Farida, seorang ibu rumah tangga sekaligus pedagang sembako asal Tepian Terap, Kecamatan Sangkulirang.
Pangkas Biaya Logistik
Secara Signifikan Bagi Emek, peresmian Jembatan Nibung oleh Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud pada Selasa 24 Februari 2026 adalah berkah nyata bagi ekonomi keluarganya.
Sebelum ada jembatan ini, ia harus merogoh kocek cukup dalam setiap kali ingin kulakan sembako.
Dulu kalau mau belanja harus naik kapal feri. Sekali jalan bayar Rp200 ribu, jadi pulang-pergi kena Rp400 ribu.
Sekarang setelah jembatan diresmikan, uang Rp400 ribu itu bisa saya hemat.
“Tinggal isi bensin saja kalau mau belanja ke Kaubun,” ungkap Emek dengan nada gembira.
Sebelum jembatan ini rampung, warga sebenarnya memiliki pilihan jalur darat.
Namun, rute tersebut dinilai sangat tidak efisien karena harus memutar sejauh 140 kilometer melintasi Kecamatan Karangan.
Jalur memutar ini tidak hanya memakan waktu lama, tetapi juga menguras biaya bahan bakar (BBM).
Kini, dengan terhubungnya Kadungan dan Pelawan secara langsung, mobilitas warga menjadi jauh lebih ringkas.
Emek Farida hanyalah satu dari ribuan warga yang kini bisa bernapas lega.
Ke depan, Jembatan Nibung diharapkan menjadi urat nadi baru yang mempercepat pertumbuhan ekonomi di wilayah Kutai Timur, Berau, hingga Kalimantan Timur secara umum.
Pemerintah Provinsi Kaltim berharap infrastruktur ini dapat memicu konektivitas yang lebih baik antarwilayah pesisir.
Sehingga harga kebutuhan pokok bisa lebih stabil berkat biaya distribusi yang terpangkas.
(*)












