TITIKNOL.ID, TENGGARONG – Penanganan petaka banjir di Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur dilakukan melalui tiga pendekatan.
Yakni pendekatan jangka pendek, jangka menengah dan yang terakhir jangka panjang.
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kecamatan Loa Janan mengambil langkah bertahap dalam menangani banjir dan longsor yang melanda wilayah Desa Loa Janan Ulu dan sekitarnya.
Penanganan difokuskan pada wilayah rawan yang kerap terdampak akibat posisi geografis yang berada di hilir sungai.
Ini dijelaskan Camat Loa Janan, Hery Rusnadi, menjelaskan bahwa banjir besar yang terjadi pada pertengahan Mei menjadi perhatian serius pihak kecamatan, Rabu (9/7/2025).
Itu lantaran kerap berulang dan berdampak terhadap aktivitas warga.
“Banjir besar terjadi pada 12, 13, dan 27 Mei lalu. Pada prinsipnya, kita fokus mencari solusi penanganan banjir-banjir yang sudah terjadi dan yang kemungkinan akan terjadi,” bebernya.
Ia mengatakan, telah disusun rencana penanganan yang mencakup jangka pendek, menengah, hingga jangka panjang.
Untuk tahap awal, fokus diarahkan pada identifikasi lahan terdampak, sosialisasi kepada masyarakat adat, serta koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Paling tidak, saat ini sudah ada langkah konkret untuk solusi jangka pendek sampai panjang.
“Mudah-mudahan ini segera terealisasi agar masyarakat kita terbebas dari banjir,” ucapnya.
Lebih lanjut, Hery juga menyoroti kondisi longsor di kawasan Kilometer 28.
Ia memastikan bahwa proses penanganan masih berjalan, baik melalui komunikasi internal maupun tindakan teknis di lapangan oleh instansi terkait.
“Kita tetap komunikasi di internal. Teman-teman dari balai jalan juga sedang menangani jalan darurat di lapangan,” tuturnya.
Sementara itu, mengenai tuntutan ganti rugi oleh warga terhadap perusahaan tambang yang diduga terkait dengan longsor, Hery menegaskan bahwa hal tersebut masih dalam tahap kajian.
“Masyarakat menginginkan ganti rugi oleh perusahaan. Tapi perusahaan belum bisa mengakui, karena belum ada bukti ilmiah apakah longsor itu murni karena tambang atau akibat kondisi alam,” terangnya.
Berdasarkan hasil pengukuran geolistrik, lanjutnya, ditemukan lapisan batuan yang sangat lemah di bawah permukaan tanah, yang diduga menjadi penyebab utama pergerakan tanah ketika tergerus oleh air.
Di akhir pernyataannya, Hery berharap semua langkah penanganan yang telah dirumuskan bisa berjalan sesuai rencana dan membawa dampak nyata bagi masyarakat.
“Harapannya, semua bisa berjalan on the track, dengan timeline yang sudah kita sepakati. Supaya masalah yang selama ini menjadi momok masyarakat banjir dan longsor bisa segera diselesaikan,” katanya. (*)












