Headline

Ide Spontan dari Beijing, Siapa Sangka Kereta Cepat Whoosh Berawal dari Pengalaman Pribadi Jokowi

177
×

Ide Spontan dari Beijing, Siapa Sangka Kereta Cepat Whoosh Berawal dari Pengalaman Pribadi Jokowi

Sebarkan artikel ini
TRANSPORTASI MASSAL - Kereta cepat Whoosh, Jakarta-Bandung. Ide di balik pembangunan Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) yang telah beroperasi ternyata berasal dari pengalaman pribadi Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, saat berkunjung ke Tiongkok.

TITIKNOL.ID, JAKARTA – Ide di balik pembangunan Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) yang telah beroperasi ternyata berasal dari pengalaman pribadi Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, saat berkunjung ke Tiongkok (China).

Kisah ini diungkapkan oleh pakar transportasi publik dan analis kebijakan publik, Agus Pambagio.

Agus menceritakan pengalamannya ketika dipanggil langsung ke Istana Bogor untuk berdiskusi mengenai proyek ambisius ini.

Saat itu, ia sempat mempertanyakan siapa pencetus proyek, terutama setelah kerja sama dialihkan dari Jepang ke Tiongkok.

“Saya dipanggil, saya bilang ‘Pak ini ide siapa?’ ‘Ide saya Mas.’ Saya hampir jatuh dari kursi. Kaget kan saya pikir idenya Menteri BUMN atau siapalah,” kata Agus, dikutip dari YouTube Abraham Samad, Senin (27/10/2025).

Menurut Agus, Presiden Jokowi awalnya menawarkan proyek ini kepada Menteri Perhubungan saat itu, Ignatius Jonan, namun ditolak.

“Saya kan menyerahkan pada Pak Menteri Perhubungan, Pak Menteri Perhubungan tidak setuju. Ya sudah, saya perintah Menteri BUMN untuk meneruskan,” ujar Agus menirukan ucapan Jokowi.

Awal Ketertarikan Jokowi

Ketertarikan Jokowi pada kereta cepat muncul saat ia diajak menjajal moda transportasi canggih tersebut di Tiongkok.

“Waktu itu saya di Beijing, saya diajak naik kereta itu ke Shanghai atau ke mana, cepat sekali dan bagus, enak sekali. Xi Jinping nanya, ‘Bapak mau?’ ‘Saya mau’,” tutur Agus menirukan ucapan Jokowi.

Agus menambahkan, dalam diskusi tersebut, ia juga menjelaskan kepada Jokowi tentang perbedaan teknologi kereta cepat antara Jepang dan Tiongkok, yang menjadi pertimbangan penting dalam pembangunan proyek Whoosh di Indonesia.

Dari pengalaman pribadi inilah, Jokowi memutuskan untuk menghadirkan kereta cepat pertama di Indonesia dan Asia Tenggara.

Tujuannya jelas, mengurai kemacetan parah di kawasan Jabodetabek dan Bandung sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui transportasi massal.

Baca Juga:   Meriah! HUT ke-22 Ikapakarti di PPU Dihadiri Wagub Kaltim dan Bupati Mudyat Noor

Lima Poin Penegasan Terbaru Jokowi soal Proyek Whoosh

Dalam pernyataan terbarunya di Solo, Jawa Tengah, pada Senin 27 Oktober 2025, Presiden Jokowi kembali menyinggung esensi dan urgensi proyek Whoosh.

1. Masalah Kemacetan Jakarta dan Sekitarnya

Jokowi menyoroti masalah utama yang menjadi latar belakang proyek ini, yaitu kemacetan kronis di DKI Jakarta dan sekitarnya.

“Kita harus tahu dulu masalahnya. Di Jakarta, kemacetan sudah parah, bahkan sejak 30–40 tahun lalu. Jabodetabek, termasuk Bandung juga menghadapi kemacetan yang sangat parah,” ucapnya.

Ia merinci kerugian besar yang ditanggung negara akibat kemacetan.

“Di Jakarta saja kira-kira Rp65 triliun per tahun. Kalau Jabodetabek plus Bandung, kira-kira di atas Rp100 triliun per tahun,” ungkap Mantan Wali Kota Solo itu.

2. Transportasi Massal adalah Solusi Utama

Menurut Jokowi, pengembangan transportasi umum, termasuk kereta cepat, adalah salah satu solusi untuk mengurai kemacetan.

Untuk mengatasi itu, dibangun MRT, LRT, Kereta Cepat, sebelumnya lagi KRL dan Kereta Bandara. 

Tujuannya agar masyarakat beralih dari kendaraan pribadi seperti mobil atau sepeda motor ke transportasi massal.

“Sehingga kerugian akibat kemacetan bisa dikurangi,” jelasnya.

3. Whoosh Bukan Proyek Pencari Laba

Jokowi menegaskan bahwa proyek kereta cepat Whoosh dibangun bukan semata-mata untuk mencari keuntungan finansial.

“Prinsip dasar transportasi massal atau transportasi umum adalah layanan publik, bukan mencari laba,” tutur ayahanda dari Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka itu.

4. Ada Keuntungan Sosial (Social Return)

Meskipun kerap dinilai merugi dari sisi operasional, Jokowi menekankan adanya keuntungan sosial yang didapatkan masyarakat dan negara.

“Transportasi massal atau transportasi umum tidak diukur dari laba, tapi dari keuntungan sosial (social return on investment).

Baca Juga:   Gubernur Zainal Tegaskan Komitmen Percepat Realisasi Belanja Daerah di Kaltara

Pengurangan emisi karbon, peningkatan produktivitas masyarakat, polusi yang berkurang, waktu tempuh yang lebih cepat, di situlah keuntungan sosial yang didapatkan,” beber Jokowi.

Ia menambahkan, jika ada subsidi, itu adalah investasi, bukan kerugian.

5. Dampak Positif Mulai Terasa

Jokowi mengakui bahwa mengubah kebiasaan masyarakat dari kendaraan pribadi ke transportasi umum bukanlah perkara mudah.

Namun, ia menilai dampak positif transportasi massal sudah mulai terasa.

MRT Jakarta telah mengangkut sekitar 171 juta penumpang sejak diluncurkan.

Kereta Cepat Whoosh telah melayani lebih dari 12 juta penumpang.

Selain mengurangi kemacetan, pembangunan transportasi massal juga memiliki efek domino terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

“Contohnya kereta cepat, yang menumbuhkan titik-titik pertumbuhan ekonomi baru,” pungkasnya. (*)